ACEH — Pertandingan di Singapore Indoor Stadium, Rabu (27/5), berlangsung sengit sejak awal. Fajar/Fikri menyerah 15-21 di gim pertama setelah keunggulan 12-9 sirna akibat banjir kesalahan sendiri. Lawan asal Taiwan itu memanfaatkan momentum dengan sempurna dan meraih 10 poin berturut-turut.
Alih-alih bangkit, Fajar/Fikri justru makin tertekan di awal gim kedua. Tertinggal jauh saat interval membuat mereka kehilangan arah permainan.
"Di gim kedua awal, terutama saya terburu-buru, panik memikirkan strategi permainan apa yang harus diterapkan," aku Fajar dalam keterangan resmi PBSI.
Pelatih terus berteriak dari pinggir lapangan. Instruksinya jelas: percepat tempo. Pasangan Taiwan dikenal solid dalam bertahan sebelum melancarkan serangan balik. Satu-satunya cara adalah memaksa mereka bermain cepat dan adu drive.
Fikri mengungkapkan bahwa titik balik terjadi bukan karena perubahan taktik drastis, melainkan karena mereka berhasil meyakinkan diri sendiri. "Kami berusaha meyakinkan diri sendiri dan partner bagaimana harus keluar dari tekanan ini," kata Fikri.
Hasilnya, Fajar/Fikri merebut gim kedua 21-17 setelah mengejar ketertinggalan. Momentum berbalik. Gim penutup jadi milik mereka dengan skor 21-15.
Meski menang, Fajar tak menutupi kelemahan timnya. "Kami banyak melakukan kesalahan sendiri," ujarnya. Gim pertama menjadi pelajaran berharga: keunggulan kecil tak berarti apa-apa jika konsistensi hilang.
Pasangan Indonesia ini masih harus memperbaiki akurasi pukulan jika ingin melaju lebih jauh. Di babak 16 besar, lawan yang lebih kuat sudah menanti.