ACEH — Catatan tersebut ditemukan setelah Iran bermain imbang 2-2 melawan Selandia Baru pada laga pembuka Grup G. Dalam pesannya, Team Melli menuliskan narasi penuh kebanggaan dan harapan.
"Dari Persia kuno ribuan tahun lalu hingga Iran modern saat ini, semangat Iran tetap hidup dan teguh. Kami datang ke Los Angeles dengan kebanggaan, bertanding dengan kehormatan, dan pergi dengan martabat," demikian bunyi surat yang dikutip dari unggahan jurnalis Kourosh Ziabari di media sosial.
Iran juga menyampaikan apresiasi kepada warga Iran yang memberikan dukungan selama 180 menit pertandingan. "Terima kasih Los Angeles atas keramahan Anda. Terima kasih kepada setiap warga Iran yang memberikan hati, suara, dan jiwanya untuk Iran."
Kalimat penutup pesan itu berbunyi: "Semoga perdamaian, rasa hormat, dan persahabatan berlaku di antara semua bangsa." Sebuah seruan yang menjadi kontras dengan situasi sulit yang dihadapi skuad Iran selama turnamen.
Ketegangan geopolitik di negara asal ikut membayangi perjalanan Iran di Amerika Utara. Regulasi perjalanan yang diberlakukan pemerintah AS membuat Iran harus segera meninggalkan wilayah Amerika setelah setiap pertandingan dan kembali ke markas latihan mereka di Meksiko.
Kebijakan itu menambah beban fisik dan mental para pemain. Namun, di atas lapangan, Iran tetap menunjukkan daya juang tinggi. Setelah menahan imbang Belgia tanpa gol pada laga kedua, mereka masih menjaga peluang lolos ke babak gugur menjelang laga terakhir Grup G melawan Mesir.
Aksi meninggalkan surat tulisan tangan ini bukan pertama kali dilakukan tim sepak bola di turnamen besar. Namun, konteks politik dan regulasi ketat yang dihadapi Iran membuat gestur ini terasa lebih bermakna. Pesan itu menjadi pengingat bahwa di balik persaingan olahraga, ada nilai-nilai kemanusiaan yang tetap dijaga.
Iran kini bersiap menghadapi Mesir di laga penentu Grup G. Hasil pertandingan itu akan menentukan apakah perjalanan mereka di Amerika berlanjut atau harus berakhir lebih cepat.