KKP Targetkan 15 Ribu Hektare Tambak Aceh Kembali Produktif Akhir 2026, 694 Hektare Sudah Ditebari Benih

Penulis: Monang Simanjuntak  •  Kamis, 30 Juli 2026 | 11:43:01 WIB
Menteri Kelautan dan Perikanan menargetkan 15 ribu hektare tambak di Aceh kembali produktif pada akhir tahun 2026.

PIDIE JAYA — Pemerintah pusat melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggenjot pemulihan sektor perikanan budidaya di Aceh pascabencana. Sebanyak 15 ribu hektare lahan tambak yang sempat terhenti produksinya ditargetkan kembali aktif hingga akhir tahun depan.

Pada tahap awal, sekitar 5.200 hektare tambak ditargetkan beroperasi paling lambat September 2026. Realisasi hingga akhir Juli 2026 baru mencapai 694 hektare yang sudah ditebari benih. Jenis komoditas yang dibudidayakan meliputi udang, bandeng, kakap, dan nila salin.

Bantuan Benih dan Pakan Gratis untuk Petambak

Sekretaris Jenderal KKP, Andy Artha Donny Oktopura, menegaskan rehabilitasi tidak hanya soal perbaikan fisik tambak. “Tujuan kami bukan sekadar memperbaiki tambak, tetapi memastikan masyarakat dapat kembali berproduksi. Karena itu, setelah rehabilitasi selesai, kami juga menyiapkan bantuan benih dan pakan agar petambak dapat segera memulai budidaya,” ujarnya saat meninjau lokasi di Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya, Rabu (29/7/2026).

Seluruh bantuan berupa benih, pakan, dan sarana produksi diberikan secara gratis. Penyuluh perikanan bersama pemerintah daerah akan mendampingi petambak hingga masa panen untuk memastikan program berjalan tepat sasaran.

12 Ekskavator Dikerahkan, 8 Unit untuk Aceh

Untuk mempercepat perbaikan tambak, KKP mengerahkan 12 unit ekskavator ke tiga provinsi: Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Delapan unit di antaranya difokuskan untuk merehabilitasi tambak di sejumlah kabupaten di Aceh.

Selain tambak, KKP juga menyalurkan bantuan mesin kapal dan 100 unit kotak pendingin berkapasitas 300 liter kepada nelayan di Kabupaten Bireuen dan Aceh Utara. Bantuan ini diharapkan meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga kualitas hasil tangkapan.

Potensi Omzet Rp 30 Juta per Hektare per Siklus

Dengan penerapan teknologi budidaya tradisional plus, setiap hektare tambak diperkirakan mampu menghasilkan sekitar 600 kilogram udang dalam satu siklus selama tiga bulan. Dengan asumsi harga rata-rata Rp 50 ribu per kilogram, potensi omzet mencapai sekitar Rp 30 juta per hektare setiap siklus.

Seorang petambak asal Pidie Jaya, Fazil, mengaku bantuan ini menjadi penyemangat untuk kembali berusaha. “Bantuan benih dan pakan ini sangat membantu kami untuk kembali beroperasi. Saya optimistis tiga bulan ke depan sudah bisa panen,” katanya.

Empat Juta Bibit Kopi untuk Kawasan Gayo

Pemulihan ekonomi di Aceh tidak hanya bertumpu pada sektor perikanan. Kementerian Pertanian menyiapkan empat juta bibit kopi untuk mendukung rehabilitasi kebun di kawasan Gayo. Kepala Posko Satgas PRR Wilayah Aceh, Safrizal ZA, mengatakan bantuan produktif akan terus diperluas.

“Untuk kawasan Gayo, sebanyak empat juta bibit kopi telah disiapkan untuk disalurkan. Ini merupakan bagian dari upaya menstimulasi, mengakselerasi, dan memulihkan kembali perekonomian Aceh yang sebelumnya terdampak bencana,” ujar Safrizal.

Reporter: Monang Simanjuntak
Sumber: mediasatunews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top