BANDA ACEH — Keluhan kelangkaan semen di Aceh tidak lagi hanya terdengar dari wilayah tengah. Dalam sepekan terakhir, sejumlah reseller material bangunan di Banda Aceh dan Aceh Besar mulai merasakan dampak gangguan distribusi dari pabrik, yang berujung pada antrean panjang dan penundaan pengiriman.
Kondisi ini memaksa sebagian pelanggan yang tengah membangun rumah atau menggarap proyek kecil untuk menunggu stok tersedia. Para pelaku usaha berharap ada kejelasan dari produsen maupun pemerintah daerah mengenai penyebab gangguan yang terjadi hampir bersamaan di berbagai titik.
Samsul, seorang reseller semen di Aceh Besar, mengatakan pengiriman ke tokonya sudah berhenti selama kurang lebih dua pekan. Padahal, dalam situasi normal, kebutuhan pelanggan selalu bisa dipenuhi tanpa hambatan berarti.
“Sudah dua minggu tidak masuk semen. Alasannya dari pabrik karena permintaan tinggi. Biasanya kalau situasi normal berapa pun kebutuhan kita selalu tersedia,” ujar Samsul kepada Dialeksis, Jumat (31/7/2026), meminta identitas lengkapnya tidak dipublikasikan.
Akibatnya, sejumlah konsumen yang membutuhkan semen untuk pembangunan rumah maupun proyek skala kecil terpaksa menunda pekerjaan hingga stok kembali normal.
Keluhan serupa disampaikan Rijal, reseller semen di Banda Aceh. Ia mengaku sudah tiga hari tidak menerima pasokan lantaran antrean permintaan dari distributor yang mengular.
“Antrean, Bang. Kalau sudah putus semen biasanya kita antre dua sampai tiga hari. Setelah itu baru masuk lagi. Informasi yang kami terima karena kebutuhan meningkat,” kata Rijal.
Keterlambatan ini tidak hanya terjadi di tingkat pengecer. Sejumlah distributor juga disebut harus menunggu giliran memperoleh stok dari gudang pemasok, sehingga rantai pasokan ke tingkat bawah ikut tersendat.
Dirangkum dari berbagai sumber digital, dampak kelangkaan paling terasa di wilayah Aceh bagian tengah. Di sejumlah daerah, harga semen melonjak signifikan akibat terbatasnya barang.
Harga semen di beberapa wilayah dilaporkan telah menembus Rp105 ribu per sak, jauh di atas harga normal yang selama ini berlaku. Sebelumnya, kenaikan juga terjadi di Aceh Singkil, di mana harga mencapai kisaran Rp98 ribu per sak karena stok menipis dan permintaan tinggi.
Para pelaku usaha material bangunan berharap pasokan segera pulih agar aktivitas pembangunan masyarakat tidak terhambat. Mereka juga mendesak adanya keterangan resmi dari pihak pabrik maupun pemerintah terkait penyebab kelangkaan yang terjadi hampir bersamaan di sejumlah kabupaten/kota.
Belum ada pernyataan resmi dari produsen semen maupun pemerintah provinsi mengenai gangguan distribusi ini hingga berita diturunkan.