ACEH — Pertamina kembali mencatatkan sejarah di kancah internasional. Terminal LPG Tanjung Sekong, yang dikelola oleh Sub Holding Commercial & Trading Pertamina, baru saja dianugerahi sertifikasi Green Terminal Label dengan predikat bintang 2. Ini adalah kali pertama sebuah terminal LPG di dunia menerima pengakuan setinggi itu, sekaligus menempatkan Indonesia di peta global sebagai pelopor operasional industri energi yang ramah lingkungan.
Penghargaan ini bukan sekadar piala penghormatan. Sertifikasi tersebut menjadi bukti terukur bahwa proses bisnis di Terminal Tanjung Sekong telah memenuhi standar ketat dalam pengelolaan lingkungan hidup. Mulai dari efisiensi energi, manajemen limbah, hingga pengurangan emisi karbon, semua aspek dinilai ketat oleh lembaga auditor independen internasional.
Bagi Pertamina, sertifikasi Green Terminal Label ini adalah bagian dari strategi besar perusahaan dalam transisi energi. Direktur Utama Pertamina, Simon Mantiri, menegaskan bahwa keberlanjutan bukan lagi wacana, melainkan fondasi pertumbuhan usaha. "Ini adalah wujud nyata komitmen kami untuk terus berinovasi dan memastikan setiap lini operasional berjalan seiring dengan kelestarian lingkungan," ujarnya dalam keterangan resmi yang dikutip belum lama ini.
Keputusan untuk membenahi Terminal Tanjung Sekong hingga berstandar internasional tidak terjadi dalam semalam. Prosesnya melibatkan audit menyeluruh terhadap seluruh rantai operasional. Hasilnya, terminal yang terletak di Banten ini dinilai unggul dalam penerapan teknologi ramah lingkungan dan tata kelola operasional yang efisien, sejalan dengan target pemerintah untuk mencapai net zero emission pada 2060.
Keberhasilan ini memberikan efek berantai yang positif. Bagi masyarakat sekitar, operasional terminal yang lebih hijau berarti udara yang lebih bersih dan risiko pencemaran lingkungan yang semakin kecil. Pertamina tidak hanya berhenti di Tanjung Sekong; pencapaian ini menjadi standar acuan untuk diterapkan di terminal-terminal lain di seluruh Indonesia.
Di sisi industri, capaian ini menaikkan standar kompetisi. Pertamina membuktikan bahwa perusahaan BUMN mampu bersaing dan bahkan memimpin dalam aspek Environmental, Social, and Governance (ESG) di tingkat global. Ini menjadi pembeda bagi investor yang kini semakin selektif dan menjadikan kinerja keberlanjutan sebagai salah satu syarat utama penanaman modal.
Dengan adanya pengakuan dunia ini, Pertamina optimistis dapat mempercepat transformasi bisnisnya. Langkah berikutnya adalah memastikan seluruh rantai pasok energi, dari hulu ke hilir, mengadopsi prinsip serupa. Komitmen ini diharapkan tidak hanya menjaga ketahanan energi nasional, tetapi juga memastikan pertumbuhan ekonomi berjalan berdampingan dengan alam yang lestari.