BANDA ACEH — Puluhan warga lanjut usia (lansia) di Banda Aceh kini memiliki ruang baru untuk bersosialisasi dan tetap produktif. Rumah Singgah Lansia Merdeka, yang diresmikan Yayasan Blood For Life Foundation (BFLF) bersama Kemendukbangga melalui BKKBN Perwakilan Aceh, dibuka sebagai tempat berkumpul warga berusia 60 tahun ke atas, bukan sebagai panti jompo.
Ketua BFLF, Michael Octaviano, menegaskan perbedaan mendasar konsep rumah singgah ini dengan panti jompo. Para lansia tetap tinggal bersama keluarga dan hanya mendatangi rumah singgah untuk mengikuti kegiatan pada siang hari, sebelum kembali ke rumah masing-masing.
“Ini beda dengan panti jompo. Kalau panti jompo, lansia yang tidak memiliki keluarga atau terlantar ditempatkan dan tinggal di sana. Di sini tidak. Pagi para lansia berkumpul dan insyaallah sore kembali ke keluarga masing-masing,” kata Michael.
Rumah singgah yang berlokasi di Banda Aceh ini beroperasi setiap Senin hingga Kamis. Berbagai program telah disiapkan untuk mengisi hari-hari para peserta, mulai dari aktivitas fisik hingga pengembangan keterampilan.
“Di sini ada senam, pemeriksaan kesehatan, kajian agama, termasuk kegiatan-kegiatan produktif lainnya. Kita harap semua lansia di Banda Aceh dan sekitarnya tidak lagi merasa kesepian, bisa bersilaturahmi dan juga produktif,” ujarnya.
Hingga peresmian dilakukan, puluhan lansia telah mendaftar sebagai peserta. Mereka berasal dari sejumlah kawasan di Banda Aceh, di antaranya Lueng Bata, Prada dan Kuta Baru.
BFLF tidak hanya menjadikan lansia sebagai peserta. Mereka yang memiliki pengalaman dan keahlian tertentu, seperti di bidang kuliner atau kesehatan, diberi kesempatan untuk menjadi pemateri dan berbagi pengetahuan dengan peserta lainnya.
Seluruh kegiatan di Rumah Singgah Lansia Merdeka dipastikan gratis. Michael menegaskan tidak ada pungutan biaya sepeser pun bagi peserta yang ingin mengikuti program tersebut.
“Semua gratis, Rp0, tidak ada berbayar satu rupiah pun,” tegas Michael.
Kepala Perwakilan BKKBN/Kemendukbangga Provinsi Aceh, Safrina Salim, menyebut rumah singgah ini merupakan bentuk kolaborasi pemerintah dan masyarakat. Konsepnya akan dikembangkan dengan pendekatan Sekolah Lansia yang selama ini sudah berjalan di bawah BKKBN.
“Rumah Singgah Lansia Merdeka ini bukan satu-satunya bagian dari pemerintahan, tapi ini adalah bentuk lembaga berorganisasi bersama-sama. Ini terbentuk dari partisipasi masyarakat,” kata Safrina.
Para peserta nantinya akan mendapatkan pembelajaran mengenai delapan fungsi keluarga dan tujuh dimensi lansia tangguh. Materi ini dikompakkan dengan kurikulum Sekolah Lansia sehingga kegiatan tidak hanya berfokus pada kesehatan, tetapi juga mencakup pembelajaran, ibadah, dan aktivitas sosial.
Safrina menambahkan, program ini akan melibatkan relawan dan berbagai pihak sebagai narasumber. Para lansia diharapkan tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga berkontribusi membagikan pengalaman dan keterampilan yang mereka miliki.
Jika respons masyarakat positif dan jumlah peserta terus bertambah, konsep rumah singgah ini berpeluang dikembangkan di wilayah lain di Aceh.
“Kalau memang memungkinkan, kita akan membuka cabang-cabangnya di mana-mana, sehingga sekolah lansia ini menjadi bentuk yang bisa diterima masyarakat dan menghadirkan kebahagiaan bagi lansia,” kata Safrina.