ACEH — Lini iPhone 18 Pro dan Pro Max dijadwalkan meluncur bulan depan, dan kabar terbaru menyebutkan Apple akan merombak tiga elemen desain kunci. Keputusan ini diambil setelah seri pendahulunya, iPhone 17 Pro, menuai respons beragam dari pengguna global terkait pilihan material dan tata letak kamera.
Salah satu kritik terbesar untuk iPhone 17 Pro adalah kontras warna mencolok antara kaca dan panel aluminium di bagian belakang. Untuk generasi berikutnya, Apple dilaporkan akan menggunakan kaca belakang yang didesain ulang untuk meminimalkan perbedaan warna tersebut.
Hasil akhirnya adalah tampilan yang lebih seamless dan menyatu, menjawab keluhan pengguna yang menganggap desain dua warna sebelumnya kurang elegan. Langkah ini menandakan pergeseran filosofi desain Apple dari sekadar fungsional menuju estetika yang lebih premium dan konsisten.
Setelah empat tahun diperkenalkan pertama kali pada iPhone 14 Pro, fitur Dynamic Island akhirnya akan mengalami perubahan signifikan. Berdasarkan informasi yang beredar, area pil hitam di bagian atas layar ini akan menyusut sekitar 35 persen pada model iPhone 18 Pro dan Pro Max.
Untuk mewujudkan hal ini, Apple dikabarkan memindahkan sebagian komponen Face ID ke bawah layar. Meski begitu, tidak semua sensor dipindahkan, sehingga desain punch-hole (lubang kamera tunggal) yang sempat dinantikan belum akan hadir pada tahun ini.
Apple disebut akan melanjutkan tren warna berani yang sukses di seri iPhone 17 Pro. Setidaknya ada tiga warna yang diprediksi hadir, dengan satu varian baru bernama 'Dark Cherry' yang digambarkan sebagai perpaduan antara burgundy, kopi, dan ungu tua.
Warna tersebut diprediksi menjadi bintang utama materi pemasaran Apple. Sementara itu, kabar kembalinya warna Space Gray atau Black masih simpang siur dan berpotensi menjadi opsi warna keempat jika Apple memutuskan untuk merilisnya.
Keputusan Apple untuk terus bereksperimen dengan warna membuktikan bahwa strategi menjauh dari warna dasar monokrom berhasil menarik minat pasar. Ini menjadi sinyal positif bagi investor dan pelaku bisnis digital yang memantau daya beli konsumen kelas menengah atas di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.