Goldman Sachs: Peluang The Fed Naikkan Suku Bunga di September 2026 Sangat Tipis

Penulis: Monang Simanjuntak  •  Kamis, 20 Agustus 2026 | 17:07:01 WIB
Goldman Sachs menilai peluang The Fed menaikkan suku bunga pada September 2026 sangat tipis karena data inflasi dan ketenagakerjaan AS yang melemah.

ACEH — Proyeksi ini muncul di tengah spekulasi pasar mengenai arah kebijakan moneter AS. Dalam laporan yang dirilis Kamis (20/8/2026), Goldman Sachs menyebut kombinasi data inflasi yang melandai serta indikator ketenagakerjaan yang kurang menggembirakan menjadi alasan utama The Fed untuk bertahan.

Data Ekonomi AS yang Melemah Jadi Pertimbangan Utama

Jan Hatzius mengutip serangkaian data terbaru yang kurang memuaskan, termasuk penjualan ritel yang lesu dan angka penciptaan lapangan kerja yang berada di bawah ekspektasi. Dua bulan terakhir, data pekerjaan dan inflasi tercatat jauh lebih lemah dari perkiraan awal.

"Setelah dua bulan data pekerjaan dan inflasi yang jauh lebih lemah, sulit untuk melihat pembuat kebijakan yang pro-pelonggaran kebijakan moneter akan beralih ke kenaikan suku bunga," ujar Hatzius dalam laporannya.

Fokus Pasar pada Pertemuan FOMC 15-16 September

Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) dijadwalkan menggelar pertemuan pada 15-16 September 2026. Keputusan tersebut akan menjadi penentu arah pergerakan dolar AS dan arus modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Bagi investor domestik, sikap The Fed yang cenderung dovish dapat meredam tekanan pada nilai tukar rupiah dan memberi ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk menjaga stabilitas moneter. Sebaliknya, jika The Fed tetap agresif, imbal hasil obligasi AS yang tinggi berpotensi memicu capital outflow dari pasar saham dan obligasi Indonesia.

Skema Kenaikan Suku Bunga Dipandang Tidak Relevan

Goldman Sachs menilai skenario kenaikan suku bunga saat ini tidak relevan mengingat kondisi fundamental ekonomi AS yang sedang dalam fase perlambatan. Inflasi yang mereda membuat tekanan terhadap daya beli konsumen berkurang, namun di sisi lain pasar tenaga kerja mulai kehilangan momentum.

Data penjualan ritel yang lemah menjadi sinyal bahwa konsumen AS mulai berhemat, sementara angka pekerjaan yang kurang menggembirakan mengindikasikan perlambatan aktivitas ekonomi secara lebih luas. Kombinasi ini memperkuat argumen bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga pada level saat ini hingga akhir tahun.

Investasi mengandung risiko.

Reporter: Monang Simanjuntak
Sumber: idxchannel.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top