Komunitas SPS Revival menggelar SPS Inclusive Stage Volume 15 dengan tema Ranup Lam Puan di Arena Skate Lamprit, Banda Aceh, Sabtu (22/8/2026) mulai pukul 16.30 WIB. Kegiatan ini melanjutkan rangkaian nilai budaya Aceh yang sebelumnya diusung, seperti Ranup Sigapu, Meutaloe, hingga Peumulia Jamee.
BANDA ACEH — Arena Skate Lamprit yang biasa dipakai untuk olahraga ekstrem, akhir pekan ini berubah menjadi panggung perayaan budaya. SPS Revival mengangkat tema Ranup Lam Puan untuk edisi kelima belas dari gelaran SPS Inclusive Stage, sebuah ruang pertemuan lintas komunitas yang digelar di seberang Masjid Oman, Banda Aceh.
Setelah edisi-edisi sebelumnya mengajak masyarakat membuka perjumpaan lewat Ranup Sigapu, membangun kepercayaan melalui Meutaloe, bekerja bersama dalam Meuseuraya, menjaga niat dengan Peusijuek, dan memuliakan sesama lewat Peumulia Jamee, kini giliran Ranup Lam Puan yang diangkat. Tema ini dimaknai sebagai fase di mana seluruh nilai yang sudah ditanam sebelumnya mulai berbuah menjadi praktik nyata di tengah masyarakat.
Rangkaian acara diawali dengan prosesi Peusijuek sebagai peneguhan niat. Setelah itu, pengunjung disuguhkan ekspresi dramatikal Guel yang ditampilkan melalui gerak, lagu, dan irama khas Aceh.
Busana, syair, rupa, dan ornamental kriya turut memperkaya pengalaman visual di lokasi acara. Panitia menegaskan bahwa tradisi dihadirkan sebagai inspirasi hidup, bukan sekadar kenangan masa lalu yang dibiarkan membeku.
Pemilihan Arena Skate Lamprit bukan tanpa alasan. SPS Revival ingin mempertemukan mahasiswa, seniman, pegiat budaya, musisi, skater, kreator konten, peneliti, dan warga biasa dalam satu ruang yang setara.
Mereka datang dari latar belakang berbeda, tetapi bertemu dalam semangat yang sama: belajar, berbagi, dan berkarya. Panggung terbuka ini juga memberi tempat bagi musik, sastra, seni rupa, kriya, skateboard, dan budaya jalanan untuk tampil tanpa sekat.
SPS Revival memandang ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai bagian penting dari kebudayaan. Dokumentasi, pengarsipan, media digital, desain, dan pengembangan teknologi dinilai mampu membantu pengetahuan lokal menjangkau lebih banyak orang.
Budaya yang terdokumentasi dengan baik akan lebih mudah dipelajari, dikembangkan, dan diwariskan ke generasi berikutnya. Karena itu, acara ini juga menjadi ajang bagi mereka yang bergerak di bidang kreatif digital untuk berkontribusi.
Melalui Ranup Lam Puan, panitia ingin membangun ekosistem kebudayaan yang sehat. Setiap orang dapat menemukan perannya masing-masing, baik sebagai pencipta karya, penulis, pendokumentasi, pengelola acara, pengembang teknologi, hingga penghubung antar komunitas.
Menurut panitia, kebudayaan tidak tumbuh karena satu orang hebat. Kebudayaan tumbuh ketika banyak orang saling percaya, saling menguatkan, dan terus berkarya bersama.
Masyarakat umum diundang untuk hadir dan menjadi bagian dari perjalanan ini. Acara berlangsung pada Sabtu, 22 Agustus 2026, pukul 16.30 WIB di Arena Skate Lamprit, yang berlokasi di seberang Masjid Oman, Banda Aceh.