Guru Besar UIN Ar-Raniry: Konflik 30 Tahun Ubah Tradisi Antar Linto dan Karakter Sosial Masyarakat Aceh

Penulis: Parsaoran Hutapea  •  Selasa, 25 Agustus 2026 | 14:43:01 WIB
Guru Besar UIN Ar-Raniry Syahrizal menyampaikan pidato dalam acara peluncuran buku di Banda Aceh, Selasa (25/8/2026).

BANDA ACEH — Guru Besar UIN Ar-Raniry itu menyebut perubahan paling nyata terlihat pada tradisi antar linto. Tradisi yang biasanya digelar malam hari itu, menurutnya, kehilangan esensi silaturahmi antarkeluarga besar.

"Antar linto itu pada malam hari. Pertama, orang tidak lagi bekerja pada malam hari. Kedua, lebih banyak waktu dan suasananya dingin, tidak panas," ujar Syahrizal dalam sambutannya, Selasa (25/8/2026).

Padahal, prosesi tersebut merupakan mekanisme sosial untuk membangun kedekatan dan komunikasi antaranggota keluarga setelah akad nikah. Keluarga kedua mempelai biasanya masih berkumpul dan berbincang dalam waktu yang lama.

Dampak Konflik Mengubah Perilaku Sosial

Syahrizal menjelaskan, konflik yang berlangsung hampir 30 tahun telah mengubah kebudayaan dan peradaban masyarakat Aceh. Dampaknya tidak hanya terlihat dari aspek fisik, tetapi juga sosial yang jauh lebih sulit dipulihkan.

"Selama hampir 30 tahun ini yang terjadi dalam tradisi masyarakat Aceh, kebudayaan, peradaban, dan tradisi masyarakat Aceh karena konflik itu berbeda," katanya.

Ia menegaskan karakter kecurigaan, rasa tidak senang terhadap orang lain, hingga kebiasaan menyebarkan fitnah merupakan sebagian dampak sosial yang tumbuh dalam situasi konflik berkepanjangan. Karakter-karakter ini kemudian terbawa ke sektor ekonomi, pendidikan, pelayanan kesehatan, hingga kehidupan sehari-hari.

"Yang paling berbahaya adalah karakter kecurigaan dan kesunyian, karakter tidak senang sama orang, karakter fitnah selama konflik. Itu sangat berpengaruh," ujarnya.

Bahasa Kesantunan Orang Aceh Berubah

Menurut Syahrizal, konflik turut mengikis tata krama dan perilaku harmonis yang menjadi ciri khas masyarakat Aceh. Ia menyebut bahasa kesantunan dan sikap damai yang penuh ketenangan itu memudar selama tiga dekade terakhir.

"Bahasa kesantunan orang Aceh itu berubah. Perilaku orang Aceh yang harmonis, yang damai, yang penuh kesunyian itu hilang selama 30 tahun," katanya.

Karena itu, ia menilai perdamaian tidak cukup dimaknai sebagai berhentinya konflik bersenjata. Masyarakat perlu melakukan pemulihan sosial untuk mengembalikan karakter kehidupan yang harmonis dan saling percaya.

Apresiasi untuk Buku Yusri Kasim

Atas nama DPD IKAL Lemhannas Aceh, Syahrizal mengapresiasi penerbitan buku karya Yusri Kasim tersebut. Ia menilai buku ini menawarkan pembelajaran tentang cara menjaga dan merawat perdamaian di daerah bekas konflik.

"Atas nama DPD IKAL Lemhannas Aceh, kami memberikan apresiasi atas launching buku ini," katanya.

Ia berharap diskusi mengenai buku ini tidak berhenti di ruang terbatas, tetapi diperluas ke kalangan mahasiswa, akademisi, pemerintah, dan pengambil kebijakan. Syahrizal juga mendorong hasil kajian buku dibuat dalam bentuk executive summary agar mudah dipahami dan disampaikan ke berbagai lembaga.

"Harapannya hasil dari buku ini nanti bisa dibuat executive summary singkat saja, sehingga bisa disampaikan kepada rumah pemerintahan maupun lembaga-lembaga pendidikan dan lembaga-lembaga sosial," pungkasnya.

Reporter: Parsaoran Hutapea
Sumber: dialeksis.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top