ACEH — Keputusan membeli mobil pertama kini lebih rumit dari sekadar memilih antara Ayla, Sigra, Calya, Agya, atau Brio Satya. Data harga per Agustus 2024 menunjukkan rentang harga LCGC berada di Rp141,2 juta hingga Rp206,7 juta, sementara mobil listrik compact mulai menawarkan harga yang tumpang tindih. Ini bukan lagi soal tren, tapi opsi nyata yang harus dihitung matang-matang.
Lima model LCGC masih mendominasi pilihan dengan total puluhan varian. Daihatsu Ayla menjadi yang termurah di kelasnya dengan banderol mulai Rp141,2 juta untuk varian 1.0 M, dan termahal di posisi Rp198,9 juta untuk tipe 1.2 R CVT ADS.
Yang menarik, sebagian besar model EV compact ini sudah menembus harga di bawah Rp250 juta. Artinya, konsumen yang tadinya hanya melihat LCGC kini punya dua jalan berbeda dengan karakteristik operasional yang bertolak belakang.
Perbedaan paling mencolok ada di biaya harian. LCGC dengan mesin bensin 1.0-1.2 liter rata-rata konsumsi 18-20 km/liter. Dengan harga Pertalite Rp10.000/liter, biaya per kilometer sekitar Rp500-550. Sementara EV compact dengan tarif listrik rumah Rp1.467/kWh dan konsumsi 10-12 kWh per 100 km, biayanya bisa turun ke angka Rp150-180 per kilometer.
Namun angka itu hanya berlaku jika pengisian dilakukan di rumah dengan listrik token. Pengguna yang mengandalkan SPKLU umum dengan tarif layanan bisa membayar dua hingga tiga kali lipat, mendekati biaya bensin LCGC.
Keputusan pindah ke EV tidak bisa hanya melihat harga beli. Ada beberapa catatan penting yang perlu dipertimbangkan sebelum menyerahkan uang puluhan juta rupiah.
Untuk pengguna dengan perjalanan harian di bawah 50 km, punya akses charging di rumah, dan jarang mudik jauh, EV compact jelas lebih hemat. Wuling Aira dengan harga Rp155 juta menjadi entry point termurah yang sulit ditolak.
Sebaliknya, LCGC masih menjadi pilihan rasional untuk mereka yang sering menempuh perjalanan antar kota, tinggal di daerah dengan infrastruktur listrik terbatas, atau berencana menjual mobil dalam 3-5 tahun. Honda Brio Satya dengan harga Rp170,4 juta menawarkan ketenangan karena jaringan bengkel dan suku cadang yang sudah teruji belasan tahun.
Yang jelas, keputusan ini tidak lagi bisa diserahkan pada kebiasaan. Perhitungan total cost of ownership selama 5 tahun akan memberikan jawaban yang berbeda untuk setiap orang, tergantung jarak tempuh harian dan akses ke pengisian listrik.
Mobil listrik?
pa yang paling murah di bawah Rp250 juta? A: Wuling Aira EV Standard Range menjadi yang termurah dengan harga Rp155 juta, disusul VinFast VF3 mulai Rp156 juta untuk skema sewa baterai.