ACEH — Start dari posisi keenam, keduanya menjalani night race selama 60 menit plus satu lap dengan strategi pergantian pembalap yang presisi. Ketenangan mereka dalam membaca ritme lawan dan menjaga kondisi ban menjadi kunci naiknya posisi hingga finis di tiga besar.
Balapan malam di Sepang punya tantangan berbeda, mulai dari visibilitas hingga manajemen suhu ban. Haridarma dan Syaukat tidak terpancing persaingan ketat di awal lomba. Mereka justru fokus menjaga konsistensi lap time dan memilih momen tepat untuk melakukan pit stop.
Kejelian membaca situasi lintasan itu yang membuat mobil balap bernomor start keenam itu perlahan merangkak naik. Hasilnya, podium ketiga pun diamankan pada seri pembuka akhir pekan tersebut.
Kabar berbeda datang pada Seri 6 yang digelar Minggu (23/8) siang. Cuaca terik Sirkuit Sepang memaksa mobil bekerja lebih keras. Insiden pecah ban ditambah kendala teknis susulan memaksa TGRI menghentikan laju mobil sebelum garis finis.
Kegagalan di laga penutup ini tentu mengecewakan, tetapi performa yang ditunjukkan sepanjang akhir pekan tetap menjadi modal berharga. Tim optimistis hasil evaluasi menyeluruh akan membawa hasil lebih maksimal pada seri regional berikutnya.
Performa menjanjikan duet TGRI tak lepas dari keunggulan Toyota GR Supra GT4 Evo2. Mobil balap ini mengusung mesin 6-silinder 3.000 cc dengan single twin-scroll turbocharger racikan Toyota Gazoo Racing yang menghasilkan tenaga 430 dk dan torsi puncak 650 Nm.
Penyaluran tenaga disempurnakan transmisi otomatis 6-percepatan dengan paddle shift serta limited-slip differential. Kombinasi ini menghasilkan akselerasi responsif saat keluar tikungan. Sistem pengereman juga mumpuni dengan rem enam piston di depan dan empat piston di belakang, ditopang suspensi multilink yang menjaga kestabilan mobil melibas tikungan khas Sepang.
Bagi Syaukat Takuma, pengalaman berlaga di level Asia ini menjadi pelajaran yang tak ternilai. Atmosfer dan tingkat persaingan di kancah regional jelas berbeda dengan balapan nasional.
"Terima kasih kepada TGRI atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk berkompetisi bersama pembalap senior, Mas Haridarma," ujar Syaukat.
"Atmosfer dan tantangannya tentu berbeda dengan balapan nasional, sehingga ini akan menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya untuk terus belajar, mengembangkan kemampuan, sekaligus membawa nama Indonesia," pungkasnya.
Keterlibatan duet pembalap lokal ini menjadi bukti komitmen TGRI dalam membina bakat muda. Sinergi antara pembalap senior dan junior terbukti mampu bersaing ketat dengan tim-tim balap papan atas Asia.