ACEH — Ilham Akbar Habibie menegaskan warisan ayahnya, BJ Habibie, bukan hanya soal penguasaan teknologi tetapi juga keterkaitan erat antara ilmu pengetahuan dan demokrasi. Penegasan itu disampaikan saat menghadiri Lifetime Achievement Awards 2026 di Jakarta, Senin (26/10/2026), yang juga memberi penghargaan kepada Gus Dur dan William Soeryadjaya.
Pakar penerbangan yang juga putra sulung BJ Habibie, Ilham Akbar Habibie, menilai publik sering salah memahami sosok Presiden RI ketiga itu. Teknologi kerap dianggap satu-satunya penanda warisan Habibie, padahal ada dimensi lain yang sama pentingnya.
"Padahal sebetulnya tidak, yakni juga mendorong demokrasi," kata Ilham di Jakarta, Senin (26/10/2026).
Ilham menyebut ayahnya berulang kali menekankan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi tidak berdiri sendiri. Keduanya harus berjalan seiring dengan nilai moral dan etika.
"Beliau kerap menekankan ada kaitan erat antara teknologi atau Iptek, dengan demokrasi (moral dan etika). Kita butuh kesinambungan antara Iptek sekaligus menjunjung moral dan etika," ujarnya.
Bagi Ilham, pandangan itu relevan dengan kondisi Indonesia sekarang. Pengembangan teknologi tanpa rambu etika berisiko melahirkan inovasi yang mengabaikan kepentingan publik.
Ilham mengenang cara Habibie mendidik anak-anaknya. Ayahnya lebih sering memberi teladan langsung ketimbang menceramahi.
"Nilai-nilai yang diberikan kepada saya itu dengan memberikan contoh, tentunya lewat pekerjaan dan karya bapak sendiri. Jadi dari saya kecil, kalau ada waktu saya diajak bapak ke kantornya," kisah Ilham dalam talkshow Eureka! Inspirasi BJ Habibie dan Teknologi Dirgantara pada 19 Desember 2022.
Pola serupa diterapkan ibunya, Ainun Habibie, yang mendorong kemandirian. Sementara Habibie membekali prinsip dasar dan membuka ruang diskusi, terutama karena keduanya sama-sama menekuni bidang penerbangan.
"Kita banyak juga diskusi secara rinci mengenai teknologinya, industrinya, desainnya, bisnisnya, dan tantangan-tantangan ke depannya," urai Ilham.
Satu hal yang paling membekas bagi Ilham adalah pesan agar tidak melupakan tanah air, meski tinggal di luar negeri. Habibie menekankan pentingnya membantu Indonesia bangkit di bidang ekonomi dan pendidikan.
"Biarpun kita menetap di luar Indonesia, jangan lupa kita ini adalah orang Indonesia. Kita juga harus membantu agar negara dan bangsa kita bangkit, lebih maju, lebih sejahtera," sebutnya.
Lifetime Achievement Awards 2026 juga menganugerahkan penghargaan kepada Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dan William Soeryadjaya. Putri Gus Dur, Yenny Wahid, hadir mewakili ayahnya.
"Gus Dur bukan pembela minoritas. Gus Dur adalah pembela orang-orang yang dizalimi. Kalau yang kebetulan dizalimi adalah minoritas, akan dibela. Sampai, bahkan sampai mati," ujar Yenny.
Edwin Soeryadjaya mewakili ayahnya dan menyampaikan pesan tentang integritas. "Satu hal yang ayah kami ingatkan kepada saya, yakni harus memegang integritas. Kami selalu diingatkan agar selalu jujur," tuturnya.
Ketiga tokoh itu menempuh jalan pengabdian berbeda: Habibie lewat ilmu pengetahuan dan industri dirgantara, Gus Dur lewat kemanusiaan dan kebinekaan, William Soeryadjaya lewat dunia usaha. Penghargaan ini menegaskan bahwa kontribusi pada bangsa tidak selalu diukur dari jabatan politik.