ACEH — Sebanyak tiga zona Creativillage di kawasan SCBD, Jakarta, menjadi ruang promosi langsung bagi pelaku ekonomi kreatif selama 21–25 Oktober 2026. Ajang yang merupakan rangkaian World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 itu mempertemukan perajin dengan calon konsumen, calon investor, dan mitra strategis. Bagi peserta, bazar ini jadi jalur menjangkau pembeli baru di luar penjualan harian.
Creativillage mengusung konsep A Journey Through Indonesian Creative Economy dengan tiga pilar utama: showcase, collaboration, dan promotion. Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar menyebut ajang tersebut sebagai upaya memperkenalkan karya kreatif Indonesia ke pasar domestik dan mancanegara.
"Melalui Creativillage, kita ingin menghadirkan best of the best dari Indonesia dan membuktikan kepada dunia bahwa pelaku industri kreatif kita sudah sekeren ini. Ini bukan sekadar pameran, tetapi langkah nyata untuk menemukan hidden gems di seluruh pelosok negeri sekaligus menggerakkan roda perekonomian bangsa," ujar Irene saat membuka Creativillage di Jakarta, Rabu (21/10).
Tiga Zona dan Bazar Akhir Pekan
Creativillage dibagi ke dalam tiga wilayah: Village One di Ashta District 8, Village Two di MGP Space, serta WCCE Weekland di SCBD Park. WCCE Weekland berlangsung 24–25 Oktober 2026 dan menghadirkan bazar kreatif, instalasi seni, pertunjukan musik, hingga ruang kolaborasi komunitas.
Rangkaian itu menjadi kanal promosi bagi usaha kecil yang selama ini mengandalkan penjualan di mal. Ela, pemilik Sewish and Rich, mengolah limbah kain menjadi kerajinan tangan dan rutin mengikuti bazar untuk memperkenalkan produknya.
"Kalau mengikuti bazar seperti ini, pengunjungnya biasanya lebih ramai dibandingkan saat berjualan sehari-hari di mal. Saya juga ingin produk yang dijual semakin dikenal dan bisa menjangkau pembeli baru," harap Ela kepada Katadata, Sabtu (24/10).
Ela mengetahui ajang tersebut lewat Instagram. Keikutsertaannya di Creativillage WCCE 2026 menjadi cara memperluas pengenalan kerajinan berbahan limbah kain ke konsumen baru.
Bagi Waktu antara Produksi dan Bazar
Peserta lain, Triasna, pemilik Threeasna, mengatur jadwal usaha dengan membagi hari kerja untuk produksi dan akhir pekan untuk berjualan di bazar. Pola itu dipilih agar kapasitas produksi tetap terjaga sementara produk tetap terpapar ke pembeli langsung.
"Kalau hari kerja, Senin sampai Jumat, saya fokus produksi. Untuk Sabtu dan Minggu, biasanya saya mengikuti bazar untuk berjualan," ujar Triasna.
Bagi pelaku usaha, interaksi tatap muka memungkinkan calon pembeli melihat tekstur, detail jahitan, dan kualitas bahan sebelum memutuskan membeli. Cara itu sulit didapat lewat katalog daring.
Produk Handmade Jadi Daya Tarik Pengunjung
Dari sisi konsumen, produk buatan tangan menjadi magnet utama. Nur Anisa, 23 tahun, datang setelah melihat informasi acara di Instagram dan menilai nama Creativillage menarik karena menonjolkan unsur kreatif.
"Awalnya tertarik karena melihat informasi acara ini di Instagram. Nama Creativillage juga sudah menarik karena ada unsur kreatifnya. Kebetulan, saya memang suka produk-produk seperti ini, jadi tertarik untuk datang," ujar Nur kepada Katadata, Sabtu (24/10).
Nur membeli gelang buatan tangan dari salah satu penjual. Menurutnya, banyak stan menawarkan produk handmade yang sesuai minatnya, dan area pameran terasa nyaman karena tersedia stan makanan-minuman serta tempat duduk untuk beristirahat.
"Secara keseluruhan, acaranya ok. Stan yang tersedia bukan cuma menjual produk, tetapi ada juga makanan dan minuman. Tempat duduknya juga tersedia, jadi kalau capek berkeliling, pengunjung bisa beristirahat," imbuhnya.
Peluang Pasar dan Pertemuan dengan Investor
Selain transaksi ritel, Creativillage dirancang mempertemukan pelaku industri kreatif dengan calon investor dan mitra strategis lintas subsektor. Format itu memberi pelaku usaha kecil akses jaringan yang biasanya hanya terbuka bagi merek besar.
Bagi pelaku ekonomi kreatif, ajang semacam ini berfungsi ganda: kanal penjualan sekaligus uji pasar atas harga dan desain. Interaksi langsung dengan pengunjung memberi umpan balik cepat sebelum produk diproduksi lebih banyak.