ACEH — Sebanyak lima dari 12 sumur eksplorasi berpotensi tinggi di Indonesia pada 2026 dikelola Pertamina melalui sejumlah entitasnya, bagian dari target sumber daya 2,6 miliar barel setara minyak (BBOE). Dominasi Pertamina itu mencuat dalam forum ASCOPE ke-51, tempat 11 negara ASEAN membahas cara menjaga produksi lapangan tua sekaligus menarik investasi hulu migas baru.
Pertamina memegang porsi terbesar dalam daftar sumur eksplorasi prioritas nasional tahun depan. Kelima sumur yang dikelola perseroan mencakup Besar-1 lewat Pertamina East Natuna (PEN), Banyu Geni-01 dan Wijaya Kusuma-1 lewat Pertamina EP (PEP), Padang Pancuran-002 juga lewat PEP, serta Tingkilan-1 lewat Pertamina Hulu Energi Lepas Pantai Bunyu (PHE LPB).
Rincian itu disampaikan Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas Rikky Rahmat Firdaus dalam rangkaian ASCOPE 51st Council Meeting. Menurut Rikky, 12 sumur high impact diproyeksikan menyumbang sekitar 80 persen dari target sumber daya sebelum pengeboran, dengan potensi mencapai 2,2 BBOE.
Mengapa Lapangan Tua Jadi Beban Bersama ASEAN
Negara-negara ASEAN menghadapi persoalan serupa: menjaga keekonomian lapangan yang sudah berproduksi puluhan tahun, membuka peluang eksplorasi baru, dan menutup fasilitas yang habis masa operasinya. Ascope Secretary in Charge Henricus Herwin menyebut ketiga hal itu menuntut pendekatan menyeluruh, bukan penanganan terpisah-pisah.
"Kita berkumpul dalam forum ini untuk membantu kawasan kita [ASEAN] memaksimalkan potensi setiap aset hulu minyak dan gas bumi sepanjang siklus hidupnya," ujar Henricus dalam pembukaan forum, dikutip dari keterangan tertulis, Rabu (28/10/2026).
Alih-alih menghadapi tantangan sendirian, negara anggota ASCOPE dinilai bisa saling menopang lewat pertukaran data dan pengalaman. Henricus menegaskan kolaborasi itu bertujuan mengubah pengetahuan regional menjadi keputusan pengelolaan aset yang lebih baik di masing-masing negara.
Portofolio Eksplorasi Indonesia untuk Investor
Bagi investor, Indonesia disebut menawarkan pilihan proyek dengan profil risiko yang beragam. "Indonesia menawarkan portofolio peluang yang beragam bagi investor dengan strategi dan tingkat toleransi risiko yang berbeda-beda," kata Rikky.
Target 2,6 BBOE pada 2026 belum final. SKK Migas menegaskan potensi tersebut masih harus dibuktikan lewat pengeboran dan evaluasi teknis lanjutan sebelum masuk hitungan cadangan riil. Sumur-sumur high impact menjadi ujung tombak pembuktian itu, dan separuh lebih di antaranya berada di tangan Pertamina.
Rangkaian ASCOPE juga mempertemukan pemangku kepentingan dari 11 negara ASEAN lewat Exploration and Production Task Force (EPTF). Forum ini membahas pelaksanaan, pengaturan, dan perencanaan operasi hulu migas, termasuk bagaimana anggota saling berbagi kemajuan proyek.
SDM Jadi Penentu Ketahanan Energi
Ketersediaan sumber daya alam dan infrastruktur dinilai tidak cukup menopang ketahanan energi tanpa kompetensi manusia di belakangnya. Kepala LEMIGAS Ikhsan Kiat menyoroti hal itu sebagai faktor yang kerap terlewat dalam pembahasan investasi hulu migas.
"Sumber daya terbesar suatu bangsa bukanlah yang berada di bawah tanah atau di dasar laut, melainkan yang ada di dalam diri manusianya. Inilah yang kita sebut sebagai human energy atau energi manusia," ujar Ikhsan.
Ikhsan mendorong kerja sama ASCOPE diperluas, tidak berhenti pada konektivitas infrastruktur dan pasar energi, tetapi juga pengembangan kapabilitas tenaga kerja sektor migas. Bagi Indonesia, agenda itu bersinggungan langsung dengan kebutuhan tenaga ahli untuk mengeksekusi 12 sumur eksplorasi dan mengelola lapangan-lapangan tua yang makin menantang secara teknis dan biaya.
Posisi Pertamina sebagai pengelola lima sumur prioritas menunjukkan beban eksplorasi nasional masih bertumpu pada BUMN energi, sementara target 2,6 BBOE menuntut bukti pengeboran dalam waktu dekat. Kolaborasi regional lewat ASCOPE menjadi jalur untuk menutup celah kapasitas itu, dari berbagi data teknis hingga penguatan SDM.