ACEH — Sumur KRG-040 dibor sebagai bagian dari program pengembangan (development well) untuk mengoptimalkan cadangan minyak yang masih tersisa di Lapangan Limau. Lapangan ini merupakan salah satu aset strategis Pertamina di wilayah kerja Sumatera Bagian Selatan.
Hasil Uji Produksi: 438 Barel Per Hari
Dari hasil uji produksi (production test) yang dilakukan pada 8 Juni, sumur ini mampu mengalirkan minyak sebesar 438 barel per hari (bopd). Angka tersebut tergolong menjanjikan untuk kategori sumur pengembangan di lapangan tua seperti Limau.
Selain minyak, sumur KRG-040 juga memproduksikan gas sebesar 0,2 juta kaki kubik per hari (mmscfd). Hal ini menambah nilai ekonomis sumur karena gas ikutan bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan operasional atau dijual.
Peran SKK Migas dan Target Produksi
SKK Migas, sebagai regulator hulu migas, mencatat hasil positif ini sebagai indikator bahwa program pengeboran di Lapangan Limau masih prospektif. Pengeboran sumur KRG-040 merupakan bagian dari upaya Pertamina dan SKK Migas untuk menahan laju penurunan produksi alamiah di lapangan-lapungan yang sudah berumur.
Keberhasilan ini diharapkan bisa mendorong akselerasi pengeboran sumur-sumur baru lainnya di wilayah kerja PHR Zone 4. Dengan tambahan produksi dari sumur KRG-040, total pasokan minyak dari Lapangan Limau diharapkan bisa berkontribusi lebih besar terhadap target produksi nasional.
Catatan redaksi: Lapangan Limau pertama kali ditemukan pada 1930-an dan masih berproduksi hingga kini. Sumur KRG-040 menjadi bukti bahwa teknologi pengeboran dan pemahaman geologi yang lebih baik mampu mengungkap potensi cadangan yang sebelumnya tidak terakses.