ACEH — Percepatan penyaluran kredit ini mengalahkan laju pertumbuhan bulan sebelumnya yang tercatat 11,51%. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut, permintaan pembiayaan dari segmen korporasi menjadi penopang utama, dengan pertumbuhan kredit korporasi mencapai 20,45% secara year on year (yoy).
Kredit UMKM Mulai Bergairah, Bank BUMN Pimpin Pertumbuhan
Setelah sempat lesu, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Kredit UMKM tumbuh 1,05% secara tahunan, membaik dibandingkan posisi Mei 2026 yang hanya tumbuh 0,60%.
Dari sisi kelompok bank, bank-bank pelat merah mencatatkan performa paling agresif. Kredit yang disalurkan bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tumbuh hingga 16,54% secara tahunan, jauh di atas rata-rata industri.
Likuiditas Mengetat, Rasio Alat Likuid Turun Signifikan
Di sisi lain, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) tidak mampu mengejar laju kredit. DPK hanya tumbuh 10,21% menjadi Rp 10.282 triliun, menciptakan tekanan likuiditas yang lebih ketat di industri perbankan.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengungkapkan rasio alat likuid terhadap non-core deposit (AL/NCD) turun ke level 101,92% pada Juni, merosot dari 108,2% pada Mei. Rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) juga terkoreksi menjadi 23,08% dari 24,74%.
"Meskipun terjadi penurunan, kedua rasio tersebut masih berada jauh di atas ambang batas minimum masing-masing sebesar 50% dan 10%, sehingga likuiditas dinilai tetap memadai," ujar Dian dalam Konferensi Pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan Juli 2026 secara virtual, Selasa (4/8).
Kualitas Aset Membaik, NPL Turun ke 2,09%
Perbaikan kualitas aset menjadi kabar baik lainnya di tengah ekspansi kredit yang agresif. Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) bruto turun menjadi 2,09% dari 2,17% pada Mei. Rasio NPL neto juga membaik ke level 0,82% dari sebelumnya 0,84%.
Indikator risiko lain turut menunjukkan tren positif. Rasio loan at risk (LAR) turun menjadi 8,47% dari 8,72%, sementara rasio cakupan pencadangan (loan loss coverage ratio/LLCR) berada di level 182,75%. Profitabilitas perbankan pun menguat, tercermin dari return on assets (ROA) yang naik menjadi 2,47%.
Ketahanan modal industri tetap solid dengan capital adequacy ratio (CAR) yang stabil di angka 23,70%, memberikan ruang yang cukup luas bagi bank untuk terus menggenjot penyaluran kredit ke depan.