ACEH — Peluncuran yang digelar di Kabupaten Bekasi ini bukan sekadar seremoni. Di balik panggung acara, para pengguna kendaraan listrik dari sektor transportasi dan logistik sudah membuktikan dampak nyata program ini terhadap pengeluaran harian mereka.
Hemat Rp 500 Ribu per Bulan untuk Satu Kurir
Pos Indonesia mencatat efisiensi paling konkret. Jika sebelumnya seorang kurir menghabiskan Rp750.000 per bulan untuk bahan bakar fosil, kini dengan motor listrik biayanya turun menjadi sekitar Rp250.000.
"Kalau menggunakan bahan fosil, satu kurir bisa habiskan Rp750.000 per bulan. Dengan EV, hanya sekitar Rp250.000," kata Courier Operation Vice President Pos Indonesia, Fernanda Windy Rahmanto, dalam keterangannya usai peluncuran.
Penghematan Rp500.000 per kurir per bulan ini menjadi angka yang signifikan bagi perusahaan logistik yang mengoperasikan armada dalam jumlah besar sejak 2023.
Pengalaman Harian: Lebih Senyap dan Responsif di Jalanan Padat
Dari sisi pengguna, Ratih Intan yang sudah dua setengah tahun mengendarai motor listrik untuk ojek daring mengaku perbedaannya terasa sejak putaran pertama. "Perbedaannya itu jauh lebih enak. Saya prefer menggunakan motor EV ini karena lebih efisien. Efisiensi waktu, efisiensi biaya," ujarnya.
Ia juga menyoroti keunggulan yang jarang disebut dalam brosur, yaitu kenyamanan saat melintasi permukiman padat. "Kalau masuk gang-gang itu lebih enak, lebih mendukung banget," katanya merujuk pada minimnya getaran mesin dan suara yang nyaris senyap.
Target 62.918 SPKLU 2030, Distribusi Masih Jawa Sentris
Meski antusiasme tinggi, ekosistem pendukung masih menjadi pekerjaan rumah. Data Kementerian ESDM mencatat baru ada sekitar 4.892 unit Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) hingga pertengahan 2026. Padahal target pemerintah untuk 2030 adalah 62.918 unit.
Kesenjangan terlihat jelas antara kota besar dan daerah. Jakarta serta Surabaya relatif siap, sementara wilayah tier 2 dan tier 3 masih minim infrastruktur pengisian daya. "Ke depannya kami berharap ekosistem motor listrik di Indonesia cepat diimplementasikan di semua daerah. Tidak hanya di kota-kota besar," harap Fernanda.
Hilirisasi Baterai Jadi Kunci Agar Tak Sekadar Jadi Pasar
Persoalan lain yang mengemuka adalah ketergantungan impor teknologi baterai. Para pemangku kepentingan menilai hilirisasi nikel dan kobalt harus digenjot lebih agresif. Tujuannya agar Indonesia tidak sekadar menjadi pasar bagi produk jadi, melainkan pusat produksi kendaraan listrik yang mandiri.
Dengan biaya operasional yang lebih murah dan dukungan penuh pemerintah, MoLiNas diharapkan menjadi katalis yang mempercepat adopsi kendaraan listrik dari perkotaan hingga pelosok negeri.