ACEH — Angka itu disampaikan Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara Dony Oskaria dalam paparannya di Jakarta, Selasa (25/8/2026). Ia menegaskan capaian tersebut membuktikan perusahaan negara Indonesia mampu bersaing dengan raksasa investasi global.
"Kalau secara size daripada net income, tentu kita sudah lebih besar daripada Temasek. Tahun ini saya berharap laba kita Rp 360 triliun, hampir dua kali lipat dari Temasek, dari Rp 136 triliun ke Rp 360 triliun," ujar Dony.
Laba Bersih vs Laba Normalisasi
Perlu dicatat, angka Rp 330 triliun merupakan laba normalisasi sebelum memperhitungkan biaya restrukturisasi. Setelah dikurangi impairment sekitar Rp 55 triliun, laba bersih BUMN pada 2025 berada di kisaran Rp 280 triliun hingga Rp 285 triliun.
Dana tersebut sebagian besar digunakan untuk perbaikan fundamental BUMN, termasuk transformasi dan restrukturisasi perusahaan-perusahaan di bawah holding Danantara. Tren ini sebenarnya sudah terlihat sejak 2023, ketika laba BUMN tercatat Rp 327,13 triliun, lalu turun ke Rp 304 triliun pada 2024.
Konsolidasi Jadi Kunci Peningkatan Kinerja
Dony mengatakan, konsolidasi dan transformasi menjadi fokus utama Danantara agar potensi laba perusahaan negara bisa terus ditingkatkan. Ia mencontohkan, efisiensi operasional dan sinergi antar-BUMN menjadi pendorong utama pertumbuhan laba tahun ini.
"Teman-teman di Danantara punya komitmen yang mungkin saya rasa tidak banyak orang yang tahu bahwa net income kita, laba perusahaan kita di Danantara lebih besar daripada Temasek. Ini mungkin nggak banyak orang yang tahu. Tetapi inilah roadmap kita ke depan," katanya.
Modal Kepercayaan Publik
Menurut Dony, besarnya laba Danantara perlu diketahui masyarakat luas. Hal ini menunjukkan Indonesia memiliki kapabilitas membangun perusahaan-perusahaan dengan kinerja kuat dan daya saing internasional.
"Ini juga perlu disampaikan kepada masyarakat bahwa kita itu sebenarnya negara yang mampu untuk memiliki perusahaan-perusahaan yang handal ke depannya. Nah, ini komitmen kita bersama," ujarnya.
Dengan target Rp 360 triliun pada 2026, Danantara optimistis bisa memperkuat posisinya sebagai salah satu sovereign wealth fund terbesar di Asia. Perbandingan dengan Temasek menjadi tolok ukur ambisi tersebut, mengingat perusahaan investasi milik Singapura itu selama ini dikenal sebagai pengelola aset negara paling sukses di kawasan.