ACEH TIMUR — Muhammad Nuraqi menilai warga berhak mendapat penjelasan mengenai penyebab suara gemuruh, dampak terhadap lingkungan, serta langkah mitigasi yang seharusnya dijalankan perusahaan di sekitar wilayah operasional. Desakan itu disampaikan Nuraqi saat dihubungi media, Sabtu (17/10/2026), sehari setelah kejadian.
Menurut Nuraqi, kepanikan warga Blang Nisam tidak bisa dibiarkan menjadi spekulasi liar tanpa keterangan resmi dari perusahaan pengelola fasilitas gas tersebut.
Warga Berlarian Keluar Rumah Tanpa Peringatan Sebelumnya
Suara gemuruh yang menyerupai pesawat terbang itu membuat sejumlah warga ketakutan hingga berhamburan keluar rumah. Sebagian warga mengaku khawatir terjadi ledakan di fasilitas pengolahan gas tersebut.
Kepanikan bertambah besar karena masyarakat mengaku tidak menerima pemberitahuan atau peringatan apa pun sebelum kejadian berlangsung. Tidak ada informasi awal soal karakter suara yang wajar keluar dari fasilitas flare stack.
"Harus diinvestigasi sumber suara dan penyebabnya. Apakah berkaitan dengan pelepasan gas dalam jumlah besar, gangguan proses, atau kondisi operasional lainnya? Perusahaan harus menjelaskan berdasarkan hasil pemeriksaan, bukan membiarkan masyarakat berspekulasi," tegas Nuraqi.
Empat Kemungkinan Penyebab yang Harus Diperiksa Secara Teknis
Nuraqi meminta perusahaan menjelaskan apakah kejadian berkaitan dengan proses operasional rutin, gangguan proses, kegiatan pemeliharaan, atau kondisi darurat pada fasilitas pengolahan gas. Keempat kemungkinan itu, menurutnya, tidak boleh disimpulkan tanpa pemeriksaan teknis dan data operasional yang memadai.
Ia juga meminta hasil evaluasi disampaikan terbuka kepada masyarakat, terutama warga yang tinggal paling dekat dengan fasilitas CPP Blok A. Keterbukaan informasi dinilai penting karena kegiatan industri minyak dan gas menyimpan risiko operasional yang harus dikelola serius.
Masyarakat di sekitar fasilitas, menurut Nuraqi, perlu mengetahui prosedur yang harus dilakukan ketika muncul suara tidak biasa, pelepasan gas, atau keadaan yang berpotensi mengganggu keselamatan.
Komunikasi Risiko Dinilai Gagal, Sosialisasi Darurat Diminta Diperkuat
Nuraqi menyoroti pentingnya sosialisasi prosedur keselamatan kepada masyarakat lingkar tambang. Ia mempertanyakan apakah perusahaan telah memberi pemahaman memadai soal karakteristik suara dari fasilitas flare stack, sistem peringatan dini, jalur evakuasi, serta tindakan yang harus dilakukan warga saat darurat.
"Ketika ibu-ibu sampai berlarian sambil menggendong anak-anak karena ketakutan, ini menunjukkan ada persoalan yang harus dievaluasi dalam komunikasi risiko kepada masyarakat. Warga perlu tahu apa yang harus dilakukan dan ke mana harus meminta informasi ketika kejadian seperti ini berlangsung," katanya.
Sosialisasi dan mitigasi, lanjut Nuraqi, tidak semestinya baru dilakukan setelah masyarakat mengalami kepanikan. Perusahaan perlu membangun sistem komunikasi yang memungkinkan warga menerima informasi cepat dan memahami tingkat risiko yang sedang terjadi.
Audit Independen Diminta, Hasil Pemeriksaan Harus Mudah Dipahami Warga
Nuraqi mengingatkan pentingnya pelaksanaan tanggung jawab perlindungan lingkungan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Untuk memastikan ada atau tidaknya pelanggaran, diperlukan pemeriksaan terhadap fakta kejadian, ketentuan yang berlaku, serta pemenuhan kewajiban perusahaan.
Hasil pemeriksaan, menurutnya, tidak boleh berhenti sebagai dokumen internal. Kesimpulannya harus disampaikan kepada masyarakat dalam bentuk penjelasan yang mudah dipahami.
"Kami meminta audit keselamatan dan pemeriksaan lingkungan secara independen. Jangan hanya mengandalkan pernyataan perusahaan. Hasil pemeriksaan harus bisa menjawab apa yang terjadi, bagaimana dampaknya, dan apa yang akan dilakukan agar kejadian serupa tidak kembali menimbulkan kepanikan," ujarnya.
Nuraqi juga meminta manajemen PT Medco E&P Malaka menemui warga Blang Nisam secara langsung untuk menjelaskan insiden, mendengarkan keluhan, dan menyampaikan langkah perbaikan.
"Kami meminta manajemen Medco datang langsung ke Blang Nisam, menemui warga, dan menjelaskan persoalan ini secara terbuka. Masyarakat membutuhkan kepastian dan informasi yang jelas mengenai keselamatan mereka," kata Nuraqi.
Ia menegaskan, perusahaan perlu mengevaluasi sistem komunikasi darurat dan memperkuat sosialisasi prosedur keselamatan bagi masyarakat yang tinggal di sekitar fasilitas operasi. Ukuran keberhasilan pengelolaan risiko industri, menurutnya, tidak cukup dilihat dari sisi teknis internal, tetapi juga dari kesiapan warga menghadapi situasi darurat.