ACEH — Penguatan rupiah terjadi sejak sesi pembukaan perdagangan di Jakarta. Berdasarkan data yang dihimpun, kurs rupiah bertengger di Rp17.859 per dolar AS, membaik dibandingkan posisi penutupan akhir pekan lalu yang berada di Rp17.922. Pergerakan ini sekaligus menjadi sinyal awal bagi pasar valuta asing di pekan ini.
Pasar merespons positif data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dirilis akhir pekan lalu. Data tersebut menunjukkan perlambatan pertumbuhan upah, yang memicu spekulasi bahwa Federal Reserve akan lebih longgar dalam menaikkan suku bunga. Imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) pun mengalami penurunan, melemahkan daya tarik dolar AS.
Di dalam negeri, pelaku pasar menanti hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pekan ini. Ekspektasi bahwa BI akan kembali mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen turut menopang sentimen positif terhadap rupiah. Stabilitas imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) juga mulai menarik minat investor asing untuk masuk kembali.
Penguatan rupiah menjadi katalis positif bagi pasar obligasi pemerintah. Investor asing cenderung meningkatkan alokasi dana ke SUN ketika nilai tukar stabil dan imbal hasil riil masih menarik. Data Bloomberg menunjukkan, kepemilikan asing di SUN pekan lalu mencatatkan net buy tipis, mengindikasikan awal kembalinya kepercayaan.
Bagi pasar saham, penguatan rupiah meredakan kekhawatiran akan kenaikan beban impor bagi emiten yang memiliki utang dalam denominasi dolar. Sektor perbankan dan konsumer biasanya menjadi yang pertama diuntungkan dari stabilitas kurs. Namun, investor tetap mencermati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masih mencari arah di tengah volume perdagangan yang terbatas.
Analis memperkirakan rupiah masih berpotensi menguat pada sesi perdagangan siang nanti, dengan rentang support di Rp17.850 dan resistance di Rp17.900. Faktor utama yang akan menentukan arah kurs adalah hasil lelang SUN dan pernyataan pejabat BI terkait strategi intervensi pasar. Pelaku pasar disarankan mencermati data inflasi Indonesia yang akan dirilis pekan ini sebagai indikator ekonomi makro tambahan.