ACEH — Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, memperkirakan IHSG akan berkonsolidasi dalam rentang sempit tersebut pada sesi hari ini. "IHSG berpeluang konsolidasi di rentang level 5.950-6.125 pada perdagangan Rabu," ujarnya. Proyeksi ini mengindikasikan pasar masih mencari arah yang jelas di tengah minimnya katalis baru dari dalam negeri.
Sentimen positif utama datang dari Amerika Serikat. Data inflasi tahunan Juni 2026 tercatat melambat menjadi 3,5 persen secara tahunan (year on year), turun signifikan dari posisi Mei 2026 yang sebesar 4,2 persen. Lebih menggembirakan lagi, inflasi inti AS juga ikut turun dari 2,9 persen menjadi 2,6 persen.
Perlambatan inflasi ini memberikan sinyal bahwa tekanan harga di ekonomi terbesar dunia mulai mereda. Bagi pasar saham global, data ini menjadi katalis positif karena memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS (The Fed) tidak akan agresif dalam menaikkan suku bunga ke depan. Imbasnya, aliran modal asing berpotensi kembali mengalir ke pasar emerging market, termasuk Indonesia.
Sejalan dengan IHSG, indeks saham unggulan LQ45 juga mencatatkan penguatan tipis pada awal perdagangan, naik 2,61 poin atau 0,44 persen ke level 601,50. Namun, pergerakan ini belum cukup untuk mengubah tren pelemahan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Investor cenderung wait and see, menunggu kepastian data ekonomi domestik dan kebijakan lanjutan dari Bank Indonesia.
Fase konsolidasi saat ini menjadi ujian bagi investor ritel dan institusi untuk menentukan strategi. Pergerakan IHSG yang terbatas membuat peluang trading jangka pendek semakin sempit, namun bisa menjadi momentum akumulasi bagi investor dengan horizon jangka panjang.
Investasi mengandung risiko. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan.