BANDA ACEH — Sebanyak 30 pengelola sanggar seni dari lima kabupaten/kota di Aceh bakal mengikuti program pendampingan yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh. Mereka adalah pegiat seni yang sanggarnya terdampak bencana banjir dan tanah longsor pada akhir November 2025 lalu.
Kepala Bidang Bahasa dan Seni Disbudpar Aceh, Nurlaila Hamjah, mengatakan pendampingan ini dirancang untuk memulihkan ruang-ruang kreatif yang sempat terhenti akibat bencana. "Pendampingan ini sangat penting untuk keberlanjutan sanggar atau komunitas seni dan ini juga wujud kepedulian Disbudpar Aceh kepada pegiat dan pelestari seni budaya," ujarnya di Banda Aceh, Selasa.
Program ini tidak berhenti pada pertemuan tatap muka. Disbudpar Aceh membagi pendampingan dalam dua tahap. Tahap pertama, para peserta diajak melakukan refleksi, menyusun visi, hingga merumuskan strategi rebranding sanggar atau komunitasnya.
Setelah tahap pertama, pendampingan berlanjut secara daring selama dua minggu. Pada periode ini, peserta dibimbing untuk mempraktikkan teknik branding dan promosi sanggar melalui media sosial.
Pada tahap kedua, materi yang diberikan lebih praktis. Pengelola sanggar dibekali tips dan trik menyusun program kerja, sekaligus kemampuan membangun jejaring dengan calon mitra. Targetnya, mereka bisa berkomunikasi dengan instansi pemerintah, swasta, BUMN/BUMD, hingga lembaga funding lainnya.
"Peserta turut diperkenalkan lembaga mitra dan cara mengakses agar dapat berkolaborasi dalam pelaksanaan program seni budaya," kata Nurlaila.
Bencana akhir November 2025 tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga menghentikan aktivitas seni dan budaya di sejumlah daerah. Disbudpar Aceh menilai keberadaan sanggar merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat, sehingga pemulihannya tidak bisa ditunda.
Nurlaila berharap pendampingan ini memberi pengetahuan dan penguatan kapasitas bagi para manajer sanggar. "Kami percaya bahwa dengan semangat kebersamaan, kepedulian, dan kerja sama, kita mampu bangkit dan membangun kembali ruang-ruang kreatif yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat," ujarnya.
Ia menambahkan, lewat program ini para pengelola sanggar diharapkan mampu menggerakkan kembali ruang kreatif sebagai wadah ekspresi seni budaya dan pembinaan generasi muda. "Semoga kegiatan ini menjadi langkah nyata dalam memperkuat ketahanan sanggar menghadapi berbagai tantangan di masa mendatang," demikian Nurlaila.