Said Abdullah: Ekonomi Nasional Tumbuh 5,29 Persen di Tengah Tekanan Geopolitik Global

Penulis: Alfian Batubara  •  Kamis, 06 Agustus 2026 | 11:11:31 WIB
Ketua Badan Anggaran DPR RI Said Abdullah menyampaikan pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,29 persen pada kuartal II 2026 di tengah tekanan geopolitik global.

ACEH — Ketua Badan Anggaran DPR RI, Said Abdullah, mengungkapkan rasa syukurnya atas ketahanan fundamental ekonomi nasional yang tetap tumbuh positif di tengah tekanan eksternal. Berdasarkan data terbaru, produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada periode April hingga Juni 2026 tercatat tumbuh 5,29 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

"Bersyukur bahwa di antara gejolak geopolitik saat ini, pertumbuhan perekonomian nasional masih tercatat di angka 5,29 persen YoY," ujar Said Abdullah dalam keterangannya, kemarin.

Angka Ini Bukan Sekadar Statistik, Melainkan Cermin Daya Beli

Capaian 5,29 persen tersebut tidak lepas dari kuatnya konsumsi domestik yang menjadi motor utama perekonomian Indonesia. Di saat pasar ekspor menghadapi hambatan akibat perlambatan ekonomi mitra dagang dan gangguan rantai pasok global, permintaan dari dalam negeri masih mampu menopang laju roda bisnis.

Stabilitas harga pangan dan energi yang terjaga sepanjang kuartal kedua turut menjadi penopang utama. Hal ini menjaga inflasi tetap berada dalam rentang kendali pemerintah, sehingga daya beli masyarakat kelas menengah tidak tergerus signifikan.

Gejolak Global Tak Berimbas Signifikan ke Sektor Riil

Berbeda dengan periode krisis sebelumnya, transmisi gejolak geopolitik kali ini lebih banyak tertahan di sektor keuangan. Gejolak tersebut belum berdampak signifikan terhadap aktivitas sektor riil, seperti manufaktur dan perdagangan, yang masih menunjukkan ekspansi.

Meski demikian, Said Abdullah mengingatkan bahwa angka pertumbuhan ini bukan tanpa tantangan. Normalisasi kebijakan moneter di negara maju dan risiko fragmentasi perdagangan global tetap menjadi pekerjaan rumah yang harus diwaspadai. Pemerintah dan Bank Indonesia diminta untuk terus menjaga sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter.

Ke depan, kunci untuk mempertahankan momentum ini adalah hilirisasi industri dan diversifikasi pasar ekspor. Langkah tersebut dinilai krusial untuk mengurangi ketergantungan pada sejumlah kecil negara tujuan dagang yang saat ini sedang dilanda ketidakpastian.

"Kita patut bersyukur, tetapi tidak boleh lengah. Pertumbuhan yang positif ini harus kita manfaatkan untuk memperkuat struktur ekonomi jangka panjang, bukan sekadar menikmati momentum," tegasnya.

Proyeksi Semester II: Momentum Pemulihan dan Belanja Pemerintah

Memasuki paruh kedua tahun 2026, optimisme tetap dijaga seiring dengan akselerasi belanja pemerintah dan realisasi investasi yang masuk. Proyek-proyek strategis nasional yang mulai beroperasi diharapkan mampu memberikan efek berganda bagi penciptaan lapangan kerja dan peningkatan nilai tambah domestik.

Konsumsi masyarakat yang biasanya meningkat pada kuartal ketiga dan keempat juga diproyeksikan menjadi pendorong tambahan. Dengan kombinasi tersebut, target pertumbuhan ekonomi yang ditetapkan dalam APBN 2026 dinilai masih berada dalam jangkauan yang realistis.

Konsistensi data pertumbuhan di atas 5 persen ini menjadi modal berharga bagi Indonesia di tengah perlambatan ekonomi global. Posisi ini juga memperkuat daya tawar Indonesia di forum internasional, serta menjadi daya tarik bagi investor yang mencari pasar dengan fundamental yang stabil.

Reporter: Alfian Batubara
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top