Dewan Perdamaian Bantah Rencana Gaza Gagal, Netanyahu Tetap Tolak Penarikan Pasukan

Penulis: Monang Simanjuntak  •  Selasa, 11 Agustus 2026 | 09:34:31 WIB
Pejabat Dewan Perdamaian menegaskan rencana Gaza tetap aktif meski Netanyahu menolak penarikan pasukan.

ACEH — Ketegangan antara Washington dan Tel Aviv soal masa depan Gaza kembali mencuat. Di tengah pernyataan keras Netanyahu yang menolak melucuti senjata Hamas sebelum pasukan Israel mundur, Dewan Perdamaian (BoP) menyatakan kerangka kesepakatan yang diumumkan bulan lalu tidak runtuh. "Rencana tersebut masih sangat aktif dan terus berjalan," ujar seorang pejabat BoP kepada Reuters, Senin (11/8).

Pernyataan ini keluar sehari setelah Netanyahu, dalam pidato yang disiarkan televisi di hadapan kabinetnya yang berhaluan kanan, menegaskan kembali penolakannya terhadap poin-poin krusial dalam proposal Trump. Sikap tersebut diambil saat militer Israel secara efektif telah menghentikan serangan besar di Gaza akibat tekanan langsung dari pemerintah AS.

Skema Verifikasi dan Syarat yang Tidak Bisa Ditawar

BoP menjelaskan desain rencana tersebut tidak meminta Israel mengambil langkah sepihak yang berisiko. Setiap fase penarikan pasukan akan dikaitkan langsung dengan aksi pelucutan senjata Hamas yang terverifikasi di lapangan. "Proses ini didasarkan pada pelaksanaan dan verifikasi di lapangan. Diskusi dengan Israel terus berlanjut, dan kerangka kerjanya dirancang sedemikian rupa sehingga setiap tahapan baru akan dilanjutkan setelah komitmen yang disyaratkan terpenuhi," jelas pejabat itu.

Peta jalan yang ditawarkan melibatkan peran aktif Dewan Perdamaian dan Hamas dalam proses transisi. Sementara itu, Pasukan Stabilisasi Internasional direncanakan akan dikerahkan untuk bekerja sama dengan kepolisian Palestina yang baru, guna mengamankan wilayah kantong tersebut setelah pasukan Israel ditarik.

Kebuntuan Politik di Dalam Negeri Israel

Penolakan terbuka Netanyahu menjadi hambatan terbesar bagi implementasi kesepakatan. Sikap ini dinilai tidak hanya sebagai keberatan teknis, tetapi juga cerminan tekanan politik domestik yang dihadapi koalisi pemerintahannya. "Israel tidak diminta untuk sekadar mengandalkan kepercayaan atau mengambil langkah yang tidak dapat dibatalkan sebelum adanya tindakan terverifikasi di lapangan," tambah pejabat BoP, merespons kekhawatiran Tel Aviv.

Namun, pernyataan keras dari Perdana Menteri Israel tersebut menimbulkan pertanyaan besar mengenai kredibilitas proses negosiasi. Meski BoP menyebut pembicaraan terus berlanjut, tidak ada jadwal konkret yang dipublikasikan mengenai kapan fase pertama akan dimulai atau bagaimana verifikasi pelucutan senjata akan dilakukan di tengah ketidakpercayaan yang mendalam.

Arah Baru Kepemimpinan di Gaza

Kesepakatan yang diumumkan Trump pada bulan lalu itu menandai perubahan signifikan dalam pendekatan AS terhadap konflik Timur Tengah. Selain penarikan pasukan bertahap, rencana tersebut mensyaratkan pembentukan kepolisian Palestina yang baru. Hal ini mengindikasikan adanya perubahan struktur keamanan di Gaza pasca-konflik, yang selama ini menjadi titik rawan kegagalan perjanjian damai sebelumnya.

Belum ada tanggapan resmi dari Hamas mengenai perkembangan terbaru ini. Namun, sumber-sumber diplomatik menyebut kelompok militan tersebut sebelumnya telah menyetujui kerangka umum kesepakatan, meskipun implementasinya di lapangan masih jauh dari kata pasti. Pertanyaannya kini, apakah Netanyahu mampu bertahan pada posisinya tanpa memicu krisis yang lebih dalam dengan sekutu utamanya di Washington.

Reporter: Monang Simanjuntak
Sumber: voi.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top