LAMBARO — Sebanyak 2.156 hektare sawah di Aceh Besar kini terdampak kemarau panjang. Dari jumlah itu, pemerintah kabupaten baru bisa menjangkau 390 hektare lahan yang masuk dalam fase paling kritis, baik yang sedang dalam masa pertumbuhan maupun menjelang tanam.
Plt Dinas Pertanian Aceh Besar, Imam Munandar, menyebutkan pihaknya menggandeng Balai Wilayah Sungai Sumatera I dan BPBD Aceh Besar untuk mengerahkan sepuluh unit pompa air. Mesin-mesin itu dipinjam pakai kepada petani secara gratis.
"Mesin pompa yang kita kerahkan tersebut merupakan salah satu bentuk pemerintah hadir untuk memberikan solusi dan antisipasi gagal panen," kata Imam Munandar di Lambaro, Selasa.
Distribusi mesin pompa ini tidak hanya mengandalkan milik pemerintah kabupaten. Sebagian unit merupakan bantuan dari Balai Wilayah Sungai Sumatera I dan BPBD Aceh Besar, ditambah mesin pompa milik petani yang dioptimalkan penggunaannya.
"Selain milik BWS dan BPBD Aceh Besar ada juga mesin pompa bantuan yang digunakan petani guna memenuhi ketersediaan air sebagai antisipasi gagal panen," ujarnya.
BWS Sumatera I juga berencana menambah satu unit mesin pompa air tambahan untuk mempercepat distribusi air ke area persawahan yang paling membutuhkan.
Pemerintah Kabupaten Aceh Besar tidak berhenti pada pompa air portabel. Untuk wilayah yang masuk kategori kekeringan berat, pemkab akan menyiapkan sumur bor sebagai solusi jangka menengah.
Imam menegaskan langkah ini merupakan komitmen nyata pemerintah hadir di tengah masyarakat. "Fokus penanganan mencakup lahan dalam fase primordial maupun masa pertumbuhan yang sangat membutuhkan distribusi air. Ini sebagai komitmen nyata kehadiran pemerintah di tengah masyarakat," katanya.
Pemerintah kabupaten berikhtiar memberikan penanganan semaksimal mungkin bagi para petani yang membutuhkan, meskipun luas lahan terdampak masih jauh lebih besar dari jangkauan penanganan saat ini.