BANDA ACEH — Safrizal mengingatkan ribuan mahasiswa baru Universitas Syiah Kuala (USK) agar tidak berpuas diri pada pencapaian akademik dan gelar semata. Ia menekankan pentingnya menjadi pribadi yang dapat dipercaya, menguasai teknologi tanpa kehilangan daya kritis, serta tetap peduli pada persoalan sosial.
“Jangan kehilangan hati. Karena pendidikan yang tinggi seharusnya membuat kita lebih manusiawi, lebih peduli, dan lebih bermanfaat,” kata Safrizal di hadapan mahasiswa, Kamis (13/8/2026).
Pesan itu disampaikan di tengah data yang menunjukkan lulusan perguruan tinggi justru menjadi penyumbang pengangguran terbanyak di Aceh. Berdasarkan data November 2025, tingkat pengangguran terbuka (TPT) lulusan perguruan tinggi mencapai 14,80 persen, naik signifikan dari 10,07 persen sebelumnya.
Angka tersebut lebih tinggi dibanding lulusan SMK yang tercatat 8,66 persen, lulusan SMA 6,92 persen, dan Diploma 6,13 persen. Kondisi ini menjadi ironi karena angka partisipasi kasar (APK) perguruan tinggi di Aceh justru mencapai 42,81 persen, melampaui rata-rata nasional sebesar 32,89 persen.
Safrizal menilai tingginya pengangguran terdidik menuntut perubahan orientasi mahasiswa. Ia mengajak mereka bertransformasi dari sekadar pencari kerja menjadi pencipta lapangan kerja atau value creator.
“Kalau belajar ekonomi, ciptakan usaha. Kalau belajar teknologi, ciptakan solusi. Kalau belajar pertanian, tingkatkan nilai tambah,” ujarnya.
Perubahan ini dinilai krusial mengingat ruang fiskal Pemerintah Aceh yang semakin terbatas. Safrizal menyebut APBD Aceh masih bergantung pada transfer pemerintah pusat hingga 76,64 persen, sehingga daya serap pemerintah terhadap lulusan baru tidak akan mampu menampung seluruh pencari kerja.
Di tengah disrupsi teknologi, Safrizal mengutip proyeksi World Economic Forum dalam Future of Jobs Report 2025 yang memperkirakan 170 juta lapangan kerja baru muncul secara global pada 2030. Namun, sebanyak 92 juta pekerjaan diproyeksikan bergeser akibat perubahan teknologi.
Karena itu, ia menekankan pentingnya keterampilan sosial, komunikasi, dan kolaborasi agar mahasiswa tetap relevan. “AI hanya menjadi co-pilot, bukan pengganti kemampuan berpikir. Teknologi boleh semakin pintar, manusia harus semakin bijaksana,” pesannya.
Penutupan PAKARMARU 2026 turut dihadiri Rektor USK Prof. Dr. Mirza Tabrani, S.E., M.B.A., D.B.A., beserta jajaran wakil rektor, dekan, dan pimpinan universitas lainnya.