ACEH — Jalan Raya Nasional 8, arteri vital yang menghubungkan Gerbang Perbatasan Internasional Cau Treo dengan Jalan Raya Nasional 1, kini menyajikan pemandangan kontras. Ruas yang baru diaspal pada awal tahun 2026 itu telah menunjukkan degradasi signifikan, dengan aspal menggumpal dan permukaan jalan tidak rata hingga membentuk gelombang setinggi beberapa sentimeter.
Pantauan di lapangan menunjukkan lubang-lubang dalam menganga di sepanjang komune Tu My hingga Duc Tho. Gundukan aspal yang menonjol di tengah jalan memaksa pengendara sepeda motor untuk memperlambat laju kendaraan secara ekstrem, sementara truk dan bus harus berguncang hebat saat melintas.
Kondisi ini menjadi lebih berbahaya pada malam hari atau saat hujan, ketika area cekung dan bergelombang sulit dikenali dari kejauhan. Risiko kecelakaan meningkat tajam, belum lagi dampak pada umur teknis kendaraan yang melintas setiap harinya.
Yang menjadi sorotan adalah fakta bahwa ruas jalan tersebut merupakan bagian dari Paket Pekerjaan No. 3 Proyek Perbaikan Badan dan Permukaan Jalan di Jalan Raya Nasional 8. Pekerjaan ini mencakup beberapa segmen penting, yaitu Km16+480 - Km18+000, Km18+600 - Km19+200, Km19+600 - Km20+350, dan Km25+000 - Km26+200.
Proyek yang diinvestasikan oleh Area Pengelolaan Jalan II ini baru saja diperiksa, diserahkan, dan dioperasikan pada 27 Januari 2026. Artinya, kerusakan yang terjadi saat ini masih berada dalam periode pemeliharaan garansi kontraktor.
Pusat Manajemen Pemeliharaan Infrastruktur (Departemen Konstruksi) bersama unit pemeliharaan rutin, Kompi 456, telah melaporkan temuan ini. Laporan tersebut mencatat adanya tanda-tanda penurunan tanah, penggelembungan, penumpukan aspal, dan bekas roda di sejumlah titik dalam area kontrak yang mengganggu kondisi operasional jalan.
Publik kini menanti langkah konkret dari pemangku kepentingan. Masyarakat mendesak agar perbaikan dilakukan secara menyeluruh, bukan sekadar tambal sulam yang berpotensi memicu kerusakan berulang di masa mendatang. Efektivitas pengawasan kualitas konstruksi dan proses penerimaan proyek menjadi pertanyaan besar yang harus dijawab untuk memastikan keselamatan ribuan kendaraan yang bergantung pada rute strategis ini.