ACEH — Perombakan besar-besaran yang dijanjikan Epic Games untuk launcher mereka sejak Februari lalu tampaknya tidak cukup untuk mengubah posisi Epic Games Store di pasar PC. Emmanuel Rosier, director of market intelligence di firma analis industri Newzoo, secara terang-terangan meragukan kemampuan Epic untuk bersaing dengan Steam yang sudah mapan.
"Saya tidak benar-benar melihat bagaimana mereka bisa membalikkan keadaan," ujar Rosier. "Steam sudah menjadi sesuatu yang tidak terhindarkan."
Program free game mingguan yang selama ini menjadi andalan Epic Games Store dinilai tidak efektif. Rosier menyebut mayoritas pengguna hanya login, mengambil game gratis, lalu pergi tanpa pernah memainkannya.
"Orang-orang hanya datang, login, mengambil game gratis, dan mereka bahkan tidak memainkannya. Ini hampir seperti mengoleksi game, bukan benar-benar memainkannya," jelasnya.
Fenomena ini justru berdampak sebaliknya pada Steam. Pembagian game gratis di Epic terbukti bisa meningkatkan penjualan game serupa di Steam, seperti yang terjadi pada Blood West. Pemain memilih membeli game di platform utama mereka agar library tidak terpecah.
Rosier menilai masalah utama Epic adalah mencoba memenangkan terlalu banyak pertarungan dalam waktu bersamaan. Perusahaan bentukan Tim Sweeney ini berhadapan dengan Steam di pasar PC, melawan Apple dan Google Play untuk kasus hukum, serta mengembangkan bisnis Unreal Engine.
"Mereka mencoba menang melawan Steam, melawan Apple, melawan Google Play, dan kemungkinan besar mereka kehabisan tenaga karena tidak bisa menghadapi semua pertempuran itu sekaligus," kata Rosier.
Berbeda dengan nasib Epic Games Store, Rosier justru optimistis dengan perkembangan Fortnite sebagai sebuah game. Epic dinilai lebih fokus dan serius menggarap game battle royale tersebut dalam enam bulan terakhir.
Salah satu pergeseran strategi yang menonjol adalah integrasi karakter dari franchise game lain. Musim ini, pemain bisa melihat Sonic the Hedgehog, Pac-Man, Crash Bandicoot, dan Mega Man bergabung bersama Sora dari Kingdom Hearts serta Joker dari Persona 5.
"Mereka tidak takut dengan game lain," ujar Rosier. "Ini tren penting yang saya lihat dari Fortnite."
Menurut Rosier, Fortnite kini berfungsi sebagai platform marketing yang menarik bagi publisher game lain. Bahkan ia mengaku terkejut Rockstar Games belum memanfaatkan Fortnite untuk acara peluncuran trailer GTA 6.
Penambahan fitur collectible "sprites" di Fortnite juga mendapat respons positif. Fitur ini memberi aktivitas tambahan di luar mekanisme battle royale yang kompetitif.
"Ini bukan tentang menang, tapi tentang melengkapi koleksi sprite," kata Rosier.
Meski begitu, Rosier tetap skeptis terhadap masa depan Epic Games Store sebagai kompetitor Steam. Perombakan launcher yang dijanjikan lebih cepat lima kali lipat dan fitur rekomendasi personalisasi dianggap terlambat untuk mengubah tren pasar.
"Kalau melihat Epic Games Store sekarang, saya tidak melihat bagaimana mereka bisa pulih," pungkasnya.