BANDA ACEH — Percepatan skrining kanker leher rahim di Aceh menghadapi dua persoalan sekaligus: cakupan pemeriksaan yang belum merata dan efisiensi penggunaan reagen. Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Aceh dan Balai Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) Banda Aceh pun memperkuat sinergi untuk menuntaskan keduanya.
Kepala Labkesmas Banda Aceh Jontari bersama tim menemui Kepala BBPOM Aceh Riyanto dalam kunjungan kerja yang membahas pelaksanaan skrining human papillomavirus (HPV)-DNA bagi perempuan berisiko. Dari pertemuan itu, terungkap bahwa capaian pemeriksaan di luar Banda Aceh masih di bawah target.
Selain persoalan cakupan, ketersediaan reagen untuk pemeriksaan HPV-DNA menjadi perhatian serius. Sejumlah reagen diketahui akan segera melewati batas waktu pemakaiannya.
Kondisi ini dinilai tidak bisa dibiarkan karena reagen pemeriksaan memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Jika tidak dimanfaatkan maksimal sesuai periode penggunaannya, potensi pemborosan sumber daya kesehatan pun mengancam.
Riyanto menegaskan bahwa percepatan skrining tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Sinergi lintas sektor diperlukan agar kendala di lapangan cepat teridentifikasi dan dicarikan solusi.
“Upaya peningkatan cakupan skrining membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak. Kita perlu memastikan koordinasi berjalan dengan baik agar berbagai kendala di lapangan dapat segera diidentifikasi dan dicarikan solusinya. BBPOM Aceh siap mendukung sinergi sesuai dengan tugas dan kewenangan yang dimiliki,” ujar Riyanto.
Menurutnya, komunikasi yang berkelanjutan antarlembaga menjadi kunci agar program berjalan efektif dan tepat sasaran. Dengan begitu, manfaat layanan bisa dirasakan langsung oleh masyarakat Aceh.
Jontari menyambut baik respons positif yang diberikan BBPOM Aceh. Ia menilai kolaborasi semacam ini menjadi fondasi penting untuk mengejar ketertinggalan target pemeriksaan di kabupaten/kota.
“Kami mengapresiasi dukungan dan respons positif dari BBPOM Aceh. Kolaborasi lintas sektor seperti ini sangat penting untuk mendorong percepatan skrining, terutama agar target pemeriksaan di kabupaten/kota dapat tercapai dan reagen yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal,” kata Jontari.
Pertemuan tersebut turut membahas dukungan apa saja yang diperlukan dari para pemangku kepentingan. Koordinasi lintas sektor diharapkan mampu merumuskan langkah strategis, sekaligus memastikan kendala di lapangan segera ditindaklanjuti.
Perluasan cakupan skrining HPV-DNA merupakan bagian penting dari upaya deteksi dini kanker leher rahim. Dengan koordinasi yang lebih kuat, pemeriksaan diharapkan berjalan lebih optimal dan menjangkau lebih banyak perempuan berisiko di seluruh Aceh.