ACEH — Berdasarkan data pasar, mata uang Garuda terkoreksi 19 poin dibandingkan posisi perdagangan sebelumnya. Pelemahan rupiah sejalan dengan pergerakan sejumlah mata uang Asia, di mana peso Filipina menjadi yang paling tertekan dengan depresiasi 0,34 persen dan yen Jepang melemah tipis 0,02 persen.
Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan tekanan utama berasal dari eksternal. Dolar AS menguat setelah data ekonomi Negeri Paman Sam dirilis lebih kuat dari konsensus pasar.
"Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS, seiring penguatan dolar AS sendiri setelah data ekonomi AS yang lebih kuat dari perkiraan," jelas Lukman kepada CNNIndonesia.com, Kamis (27/8).
Selain faktor global, pasar keuangan dalam negeri juga tengah diliputi ketidakpastian. Lukman menilai kondisi fundamental domestik masih rapuh, diperparah dengan aksi unjuk rasa besar yang berlangsung di Jakarta pada hari yang sama.
"Selain itu, sentimen domestik masih rapuh di tengah aksi demonstrasi besar yang berlangsung di Jakarta hari ini ikut menekan," tuturnya.
Di kawasan Asia, pergerakan nilai tukar tercatat variatif. Berikut pergerakan mata uang Asia terhadap dolar AS sore ini:
Sementara itu, dari kelompok mata uang utama negara maju, euro tercatat stagnan. Poundsterling Inggris melemah 0,07 persen dan dolar Kanada turun 0,04 persen. Di sisi lain, dolar Australia berhasil menguat 0,21 persen, sedangkan franc Swiss melemah 0,07 persen.
Pelaku pasar masih mencermati dua faktor utama yang menentukan arah rupiah pada sesi berikutnya. Pertama, kelanjutan penguatan dolar AS yang dipicu oleh ketahanan ekonomi Amerika Serikat. Kedua, situasi keamanan dan politik dalam negeri pasca aksi demonstrasi yang berlangsung hari ini.
Selama sentimen domestik belum kondusif dan dolar AS masih perkasa, tekanan jual terhadap rupiah berpotensi berlanjut. Sebaliknya, jika aksi unjuk rasa mereda dan data ekonomi AS berikutnya menunjukkan pelonggaran, ruang penguatan rupiah bisa kembali terbuka.