ACEH — Trump mengunggah gambar tersebut sehari setelah membagikan grafis yang mengubah nama Negara Bagian New Mexico menjadi "New America", dengan kata "Mexico" dicoret dan diganti "America". Unggahan terbaru ini memperlihatkan bendera AS menutupi hampir seluruh Kanada, Greenland yang merupakan wilayah Denmark, serta sebagian besar Meksiko.
Belum ada pernyataan resmi dari Gedung Putih mengenai maksud di balik unggahan peta tersebut. Trump juga belum menanggapi kritik yang muncul setelah grafis New Mexico menuai protes dari para pejabat negara bagian setempat.
Aksi ini bukan yang pertama. Sebelumnya, Trump mengeklaim Selat Hormuz sebagai wilayah AS dan memberinya nama baru, Selat Trump. Ia juga mengubah nama Danau Ontario menjadi Danau Amerika—langkah yang diikuti Google Maps dan memicu protes resmi dari Kanada.
Pola unggahan semacam ini menunjukkan eskalasi retorika teritorial yang tidak biasa dilakukan presiden petahana. Berbeda dengan kebijakan luar negeri pada umumnya yang disampaikan melalui saluran diplomatik, Trump memilih media sosial sebagai kanal utama untuk menyuarakan klaim tersebut.
Klaim atas Greenland sebelumnya sudah pernah dilontarkan Trump pada periode pertama kepemimpinannya. Pemerintah Denmark saat itu menolak tegas gagasan menjual wilayah otonom tersebut. Kanada, sekutu dekat AS di NATO, juga telah menyatakan keberatan atas perubahan nama Danau Ontario yang dianggap mencederai kedaulatan wilayahnya.
Para pengamat hubungan internasional menilai unggahan semacam ini berpotensi merusak kepercayaan sekutu AS di kawasan. Meski belum ada tindak lanjut resmi dari pemerintah Kanada, Meksiko, atau Denmark, unggahan peta tersebut mempertegas pola komunikasi Trump yang kerap memicu ketegangan diplomatik.
Sejauh ini, tidak ada satu pun klaim tersebut yang diakui secara hukum internasional. Status Greenland tetap sebagai wilayah Denmark, Selat Hormuz tetap berada di bawah yurisdiksi Iran dan Oman, sementara Kanada dan Meksiko adalah negara berdaulat yang tidak pernah menjadi bagian dari AS.