ACEH — Vaksin rotavirus buatan dalam negeri akhirnya resmi meluncur. Bio Farma bersama Murdoch Children’s Research Institute (MCRI) mendapatkan Nomor Izin Edar (NIE) dari BPOM RI, menandai babak baru pengembangan vaksin yang telah berlangsung puluhan tahun.
Bio-RV bukan vaksin biasa. Produk ini dirancang khusus untuk menangkal gastroenteritis atau diare akut yang disebabkan rotavirus, salah satu pembunuh senyap bagi balita di Indonesia.
Diberikan Sejak Bayi Baru Lahir
Keunggulan utama Bio-RV terletak pada jadwal pemberiannya yang fleksibel. Vaksin oral ini bisa diberikan dalam tiga dosis, dimulai saat bayi berusia 0–5 hari, kemudian dilanjutkan pada usia 8–10 minggu dan 12–14 minggu.
Mengapa ini penting? Data Kementerian Kesehatan melalui Indonesia Rotavirus Surveillance Network (2001–2017) menunjukkan rotavirus bertanggung jawab atas 41–58 persen kasus diare pada balita yang harus dirawat inap.
Direktur Utama Bio Farma, Shadiq Akasya, menjelaskan bahwa izin edar ini adalah puncak dari perjalanan panjang riset dan pengembangan. "Bio-RV bukan hanya tentang hadirnya satu produk vaksin baru. Di balik pencapaian ini terdapat perjalanan panjang pengembangan ilmu pengetahuan, pengembangan proses, uji praklinis dan klinis, alih teknologi, registrasi, serta penyiapan manufaktur," ujarnya.
Jejak Riset 50 Tahun: dari Melbourne ke Yogyakarta
Kisah Bio-RV berakar dari penemuan rotavirus pada manusia tahun 1973 oleh Profesor Ruth Bishop dari MCRI bersama Profesor Ian Holmes dari University of Melbourne. Kolaborasi kemudian meluas ke Indonesia melalui Profesor Yati Soenarto dari Universitas Gadjah Mada (UGM), yang pertama mengonfirmasi rotavirus sebagai penyebab utama kematian akibat diare pada anak di Tanah Air.
Pada 1982, Profesor Bishop mengidentifikasi strain RV3 yang unik—menginfeksi bayi baru lahir tanpa menimbulkan penyakit, justru memberi perlindungan alami. Temuan inilah yang kemudian dikembangkan Profesor Julie Bines dari MCRI menjadi kandidat vaksin RV3-BB, yang diuji klinis di Australia, Selandia Baru, dan Indonesia.
Perjalanan riset ini didukung pendanaan dari Gates Foundation, Australian National Health and Medical Research Council, serta Pemerintah Australia. Di sisi lokal, Bio Farma menggandeng UGM, Universitas Airlangga melalui Airlangga Integrated Research Clinic (AIRC), dan PATH.
Menuju Kedaulatan Vaksin Nasional
Bagi Shadiq, hadirnya Bio-RV adalah bukti nyata penguasaan teknologi manufaktur vaksin di Indonesia. "Yang ingin kami hadirkan adalah perlindungan sedini mungkin bagi anak-anak Indonesia, sekaligus memastikan bahwa Indonesia memiliki kemampuan untuk menjamin keberlanjutan pasokan vaksin secara mandiri," tegasnya.
Dengan kemampuan produksi lokal, ketergantungan terhadap vaksin impor diharapkan berkurang. Ini juga menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan Program Imunisasi Nasional, memastikan setiap bayi Indonesia mendapat perlindungan optimal sejak hari pertama kehidupannya.
Izin edar ini sekaligus menegaskan posisi Bio Farma sebagai garda terdepan industri vaksin di kawasan, membuktikan bahwa riset kolaboratif lintas negara mampu menghasilkan produk kesehatan strategis yang berdampak langsung bagi masyarakat.