ACEH — Kenaikan ini terjadi setelah militer kedua negara saling menyerang kapal di sekitar Selat Hormuz pekan lalu. Mengutip data Investing.com, minyak mentah jenis Brent untuk kontrak November naik 0,5 persen ke posisi 96,77 dolar AS per barel pada pukul 08.25 WIB. Di saat yang sama, West Texas Intermediate (WTI) juga menguat 0,5 persen menjadi 91,94 dolar AS per barel.
Lalu Lintas Kapal Anjlok Drastis Imbas Risiko Keamanan
Eskalasi konflik sudah berlangsung sejak akhir pekan. Militer AS mengaku menyerang tiga kapal tanker minyak milik Iran pada Sabtu lalu sebagai balasan atas serangan rudal balistik yang diluncurkan pasukan Iran ke kapal Angkatan Laut AS. Iran kemudian merespons dengan klaim telah menyerang drone angkatan laut AS dan mengancam akan melancarkan serangan balasan yang lebih keras.
Akibat meningkatnya risiko keamanan, data perusahaan analisis Kpler per Senin (7/9/2026) mencatat lalu lintas kapal komoditas di Selat Hormuz anjlok drastis. Volume pelayaran kini hanya sekitar 10 kapal per hari, level terendah sejak Mei lalu. Padahal, selat ini merupakan jalur distribusi energi vital yang dilalui sekitar seperlima dari total konsumsi minyak harian global.
Ancaman Zona Maritim Baru dan Dampaknya ke Pasokan Global
Situasi semakin genting setelah pejabat senior keamanan Iran menyatakan akan menetapkan zona maritim terbatas baru di luar Selat Hormuz dalam beberapa hari mendatang. Berdasarkan laporan Press TV, Tehran juga mengancam akan menjatuhkan sanksi bagi kapal mana pun yang nekat melintas di area tersebut.
Langkah ini berpotensi memperparah gangguan distribusi energi global yang sudah mulai terasa. Sepanjang pekan lalu, harga Brent tercatat melonjak 7,8 persen, sementara WTI melompat hingga hampir 10 persen. Investor dan pelaku pasar kini mencermati setiap perkembangan terbaru di kawasan tersebut, mengingat Selat Hormuz menjadi titik krusial bagi rantai pasok minyak dunia.