ACEH — Kemampuan menyusui tidak muncul otomatis setelah melahirkan. Dokter spesialis obstetri dan ginekologi dr. Dewi Ayu Astari, Sp.OG, menekankan pentingnya mempelajari teknik menyusui sejak masa kehamilan. Berikut panduan lengkap manajemen laktasi, mulai dari perlekatan bayi hingga dukungan suami.
Kelenjar payudara sebenarnya sudah memproduksi ASI sejak usia kehamilan 16 minggu. Hormon kehamilan menahan cairan itu agar tidak keluar sebelum waktunya. Karena itu, persiapan menyusui idealnya dilakukan jauh sebelum hari persalinan tiba.
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi dr. Dewi Ayu Astari, Sp.OG, menyampaikan hal tersebut dalam dialog Indonesia Sehat di Pro 1 RRI Jember. Ia menegaskan pasangan suami istri sebaiknya tidak menunda mempelajari manajemen laktasi hingga bayi lahir.
"ASI sebenarnya sudah mulai diproduksi oleh kelenjar payudara sejak usia kehamilan 16 minggu. Namun, hormon kehamilan menahannya agar tidak keluar sebelum waktunya. Karena itu, persiapan dan edukasi menyusui idealnya dilakukan sejak hamil agar orang tua sudah memiliki bekal ilmu (muscle memory) saat bayi lahir," ujar dr. Dewi dalam dialog tersebut.
Menyusui bukan tanggung jawab ibu seorang diri. dr. Dewi menekankan keterlibatan suami sebagai kunci keberhasilan pemberian ASI eksklusif.
"Menyusui itu harus dilakukan berdua. Karena kehamilan terjadi dari dua orang, maka persiapan persalinan hingga menyusui juga harus berkolaborasi," tambahnya.
Dukungan keluarga yang suportif membantu ibu terhindar dari stigma dan mitos keliru seputar menyusui. Dengan begitu, ibu bisa menyusui dengan nyaman hingga anak berusia dua tahun.
Rasa sakit atau lecet pada puting saat menyusui umumnya bukan hal normal. Keluhan ini biasanya muncul akibat kesalahan teknik perlekatan atau latch-on.
Bayi idealnya menghisap sebagian besar area areola, yakni bagian gelap di sekitar puting. Bukan hanya putingnya saja. Pastikan pula posisi kepala, leher, dan tubuh bayi berada dalam satu garis lurus.
Banyak ibu baru merasa tidak percaya diri karena payudaranya kecil atau putingnya datar. dr. Dewi meluruskan anggapan tersebut.
Jumlah kelenjar pembuat ASI pada setiap wanita pada dasarnya sama. Yang membedakan hanya jaringan lemaknya. Puting hanyalah saluran luar, sehingga bentuk puting apa pun tetap memungkinkan untuk menyusui secara efektif.
ASI yang belum keluar melimpah pada hari pertama hingga ketiga setelah melahirkan adalah hal yang wajar. Bayi baru lahir memiliki kapasitas lambung yang masih sangat kecil, sekitar 5–7 cc atau setara kelereng.
Bayi juga memiliki cadangan energi alami untuk beberapa hari pertama. Masyarakat diimbau tidak terburu-buru memberikan susu formula menggunakan dot tanpa indikasi medis. Pemberian dot di fase ini dapat memicu masalah bingung puting pada bayi.
Penggunaan suplemen pemacu ASI atau booster bersifat tambahan, bukan yang utama. Faktor terpenting tetap asupan nutrisi seimbang, terutama protein hewani, dan kecukupan cairan 2,5–3 liter per hari.
Kondisi mental ibu yang tenang dan percaya diri juga berpengaruh besar. Stres berlebihan bisa mengganggu kelancaran produksi ASI.
dr. Dewi berpesan agar calon orang tua tidak ragu memanfaatkan layanan konseling laktasi. Konsultasi dengan tenaga kesehatan bisa dilakukan sebelum melahirkan, bukan hanya setelah bayi lahir.
Jika ibu mengalami nyeri hebat, puting berdarah, atau payudara bengkak dan mengeras disertai demam, segera temui dokter atau konselor laktasi. Kendala ini perlu penanganan medis, bukan dipendam sendirian.
Persiapan menyusui sejak hamil memberi ibu dan ayah bekal ilmu yang cukup. Dengan teknik yang benar, dukungan pasangan, dan bantuan tenaga kesehatan, perjalanan menyusui bisa berjalan lebih nyaman hingga dua tahun.