LHOKSUKON — Guncangan alat musik Rapai Pase bakal menggema di Aceh Utara. Lima puluh grup rapai dari berbagai penjuru kabupaten akan saling beradu dalam sebuah duel akbar yang dikemas sebagai kompetisi persahabatan antarwilayah.
Konsep pertunjukan ini mempertemukan dua kubu besar: Blah Deh Krueng yang mewakili wilayah tengah-timur dan Blah Nou Krueng dari wilayah tengah-barat Aceh Utara. Masing-masing kubu akan menurunkan rapai-rapai legendaris yang memiliki sejarah panjang dan kualitas permainan tinggi.
Apa yang Membuat Pertunjukan Ini Spesial?
Pertunjukan ini diperkirakan menjadi salah satu yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Bukan hanya dari jumlah peserta, tetapi juga dari nilai historis alat musik yang akan ditampilkan. Grup asal Aceh Timur, yakni Grup Rapai Matang Keupula, juga dipastikan ikut meramaikan.
Koordinator tim wilayah timur, Rusli M. Yacob, mengatakan bahwa pihaknya telah mengumpulkan kekuatan berbagai grup legendaris untuk memberikan penampilan terbaik. "Ini bukan sekadar perlombaan, tapi ajang untuk menunjukkan kekayaan tradisi Rapai Pase yang diwarisi para indatu. Kami ingin masyarakat melihat bahwa budaya ini masih hidup dan terus berkembang," ujarnya.
Pasukan Blah Deh Krueng: Warisan Abad ke-18
Pasukan Blah Deh Krueng akan dipimpin oleh Kelompok Rapai Raja Meudeuhak dari Desa Pucok Alue, Kecamatan Baktiya. Wilayah timur ini juga diperkuat oleh Kelompok Rapai Sibrok Blang Pha dari Distrik Seunuddon yang masih menyimpan warisan nenek moyang rapai dari akhir abad ke-18. Rapai Sibrok dikenal sebagai salah satu alat musik dengan nilai sejarah tinggi.
Dari Aceh Timur, sejumlah grup legendaris seperti Tualang Tuha dan Ceureumen Apui juga dipastikan bergabung. Kekuatan timur semakin lengkap dengan bergabungnya rombongan dari Lhok Merbo, Kecamatan Tanah Jambo Aye, yang akan membawa prestasi Boh Atom andalan Boh Beureutoh.
Kekuatan dari Lhoksukon: Pusaka Indatu
Dari Kecamatan Lhoksukon, Kelompok Rapai Pusaka Indatu akan tampil dengan membawa sejumlah rapai bersejarah. Beberapa di antaranya adalah Putroe Banderoh, Tualang Meurante, serta beberapa rapai pusaka lainnya yang diwariskan secara turun temurun.
Pertunjukan ini juga menjadi simbol kebangkitan seniman Aceh Utara. Sebab, banyak alat musik tradisional yang rusak akibat terendam banjir beberapa waktu lalu. Melalui duel akbar ini, para seniman berharap tradisi Rapai Pase tidak hanya bertahan, tetapi juga semakin dikenal oleh generasi muda.