BANDA ACEH — Laporan Perekonomian Provinsi Aceh yang dirilis BI pada Mei 2026 mencatat bahwa pada triwulan I 2026, ekonomi Aceh sudah menunjukkan pemulihan dengan tumbuh 4,09 persen secara tahunan. Angka ini kontras dengan triwulan IV 2025 yang sempat terkontraksi minus 1,61 persen akibat dampak bencana.
Konstruksi dan Konsumsi Pemerintah Jadi Motor Utama
Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ditopang oleh meningkatnya kinerja sektor konstruksi yang berkaitan langsung dengan proyek rekonstruksi. Sektor perdagangan besar dan eceran serta administrasi pemerintahan juga mencatatkan perbaikan signifikan.
Sementara dari sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) menjadi pendorong utama. Perbaikan konsumsi rumah tangga ikut berkontribusi, seiring dengan pulihnya daya beli masyarakat pascabencana.
Inflasi Melandai Meski Permintaan Ramadan Meningkat
BI mencatat tekanan inflasi di Aceh mulai mereda. Pada triwulan I 2026, inflasi tercatat 5,34 persen secara tahunan, lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 6,71 persen.
Penurunan ini dipengaruhi oleh membaiknya distribusi barang setelah bencana hidrometeorologi. Kondisi itu terjadi meskipun permintaan masyarakat meningkat selama Ramadan dan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri 1447 Hijriah.
Pembiayaan UMKM Tumbuh, Rasio Kredit Macet Tetap Rendah
Stabilitas sistem keuangan Aceh dinilai tetap terjaga. Pertumbuhan pembiayaan masih positif dengan kualitas pembiayaan yang baik. Hal itu tercermin dari rasio pembiayaan bermasalah atau Non-Performing Financing (NPF) yang tetap rendah.
Pembiayaan kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terus meningkat, dengan rasio mencapai 25,33 persen. Dana Pihak Ketiga (DPK) juga tumbuh 11,48 persen secara tahunan pada periode yang sama.
Transaksi Digital Meningkat, Pengangguran Dampak Bencana
Di sektor sistem pembayaran, BI mencatat layanan tunai dan nontunai berjalan lancar. Penggunaan Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK) dan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) terus menunjukkan tren peningkatan sepanjang triwulan pertama 2026.
Namun, di bidang ketenagakerjaan, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Februari 2026 meningkat sebagai dampak langsung bencana hidrometeorologi yang melanda akhir 2025. Meski demikian, BI menilai kualitas pasar kerja mulai membaik, ditandai dengan meningkatnya proporsi pekerja formal serta menurunnya jumlah pekerja setengah menganggur dan pekerja paruh waktu.
Target Inflasi 2026: Terkendali di Kisaran 2,5 Persen
Ke depan, BI memperkirakan inflasi Aceh sepanjang 2026 tetap terkendali dan berada dalam kisaran sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen secara tahunan. Optimisme ini didukung implementasi strategi pengendalian inflasi melalui empat langkah utama: menjaga ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif.