BANDA ACEH — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Aceh mencatat pertumbuhan signifikan partisipasi masyarakat di pasar modal. Jumlah investor di provinsi ujung barat Indonesia itu menembus 224.722 SID hingga akhir tahun lalu, naik lebih dari separuh dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Nilai transaksi saham di Aceh pun tercatat tembus Rp2 triliun. Angka ini menjadi sinyal bahwa minat investasi ritel di daerah tersebut kian menguat, seiring kemudahan akses melalui platform digital.
Kantor Baru Bukan Sekadar Tempat Transaksi
Head of Retail Brokerage BNI Sekuritas, Rohma Fitri Murniawati, mengatakan pertumbuhan tersebut harus diimbangi dengan literasi yang memadai. Ia menekankan bahwa investor perlu dibekali kemampuan mengambil keputusan secara bijak dan berkelanjutan.
“Kami ingin menghadirkan cabang sebagai ruang belajar, diskusi, dan pendampingan investasi,” ujar Fitri saat meresmikan kembali kantor cabang BNI Sekuritas di Aceh, pekan lalu.
Kantor yang diperbarui itu tidak hanya melayani transaksi, tetapi juga dirancang sebagai ruang interaksi. BNI Sekuritas menggelar sesi live trading yang dipandu tim riset ritel, di mana nasabah dapat menyaksikan langsung proses analisis pasar secara real-time.
Saham Syariah Jadi Andalan di Aceh
Aceh merupakan salah satu wilayah dengan ekosistem keuangan yang mengacu pada prinsip syariah. Untuk mengakomodasi kebutuhan tersebut, BNI Sekuritas menyediakan layanan transaksi saham syariah melalui Sharia Online Trading System (SOTS) yang terintegrasi dalam aplikasi BIONS.
Melalui sistem ini, investor dapat bertransaksi pada saham yang masuk dalam Daftar Efek Syariah sesuai ketentuan yang berlaku. Langkah ini dinilai strategis mengingat karakteristik masyarakat Aceh yang kuat dalam menjalankan prinsip ekonomi Islam.
Target: Pemerataan Akses dan Literasi
Fitri menambahkan, ke depan BNI Sekuritas akan terus memperkuat peran cabang sebagai bagian dari ekosistem layanan yang terintegrasi dengan platform digital. Perusahaan meyakini pertumbuhan pasar modal yang berkelanjutan perlu didukung pemerataan akses investasi dan literasi keuangan di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Aceh.
“Pertumbuhan investor di Aceh merupakan sinyal positif bahwa minat masyarakat terhadap pasar modal terus meningkat. Tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan tersebut diiringi dengan literasi yang memadai,” pungkasnya.