BANDA ACEH — Rekapitulasi Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) BPBA menunjukkan dampak bencana periode Januari-Juli 2026 terasa luas, memengaruhi 1.353 kepala keluarga atau sekitar 4.315 jiwa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 992 jiwa terpaksa mengungsi akibat rumah mereka rusak atau terdampak.
Kerusakan fisik tercatat cukup parah. BPBA mendata 249 unit rumah mengalami rusak berat, 105 unit rusak sedang, dan 153 unit rusak ringan. Selain itu, 307 unit rumah lainnya terdampak genangan banjir.
Kabupaten Aceh Besar Jadi Wilayah Terdampak Terparah
Sebaran bencana tidak merata di seluruh Aceh. Kabupaten Aceh Besar mencatat jumlah kejadian tertinggi dengan 26 peristiwa. Posisi berikutnya ditempati Lhokseumawe, Bener Meriah, dan Aceh Tengah yang masing-masing mencatat 16 kejadian.
Aceh Tenggara menyusul dengan 14 kejadian, Aceh Barat 12 kejadian, dan Aceh Utara sembilan kejadian. Sementara itu, Langsa, Banda Aceh, dan Gayo Lues masing-masing mencatat lima kejadian selama tujuh bulan terakhir.
Karhutla dan Kebakaran: Ancaman Terbesar Sepanjang 2026
Dari total 148 bencana, kebakaran menjadi penyumbang terbesar dengan 61 kejadian. Angka ini disusul kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebanyak 37 kejadian, banjir 21 kejadian, dan angin puting beliung 17 kejadian.
BPBA juga mencatat enam kejadian banjir bandang, tiga longsor, dua abrasi, dan satu gempa bumi. Tingginya angka kebakaran dan karhutla menjadi perhatian serius karena dampaknya langsung menyentuh permukiman warga dan lingkungan.
Kerugian Capai Rp112 Miliar, Pencegahan Jadi Kunci
Kepala Pelaksana BPBA Ir. Bahron Bakti menegaskan data ini bukan sekadar catatan administratif. "Data kejadian bencana bukan hanya menjadi catatan, tetapi juga menjadi dasar dalam menentukan langkah mitigasi, meningkatkan kesiapsiagaan, serta memperkuat koordinasi penanganan bencana di seluruh wilayah Aceh," ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (28/8/2026).
Bahron menyebut pencegahan kebakaran dan karhutla tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. "Pencegahan harus dimulai dari kesadaran bersama. Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dan segera melaporkan setiap potensi bencana agar dapat ditangani sedini mungkin," katanya.
Ia menambahkan, kolaborasi antara masyarakat, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci untuk menekan angka bencana ke depan. Kerugian Rp112 miliar yang mencakup dampak terhadap masyarakat, permukiman, aset, maupun aktivitas ekonomi disebutnya sebagai pelajaran berharga bagi semua pihak.