Pencarian

Workshop Matikan AI di HP Viral di AS, Ratusan Orang Antre Belajar Nonaktifkan Apple Intelligence dan Gemini

Minggu, 26 Juli 2026 • 08:54:01 WIB
Workshop Matikan AI di HP Viral di AS, Ratusan Orang Antre Belajar Nonaktifkan Apple Intelligence dan Gemini

ACEH — Pustakawan Charlie Bailey di South Philadelphia menggelar kelas satu jam bertajuk “Avoiding AI”. Di ruangan yang biasanya dipakai anak-anak belajar alfabet, dua puluh orang dewasa duduk dengan ponsel di tangan. Bailey memandu mereka menonaktifkan Apple Intelligence di iPhone dan Gemini di perangkat Android – langkah demi langkah lewat proyektor.

“Saya terinspirasi oleh rasa frustrasi orang terhadap alat AI yang seolah dipaksakan kepada mereka,” kata Bailey kepada TechCrunch. “AI yang tidak kita minta tiba-tiba ada di mana-mana.”

Apa yang Diajarkan Workshop “Avoiding AI”?

Bailey memulai dengan menjelaskan cara kerja chatbot AI dan produk konsumen serupa, alasan orang mungkin menggunakannya, serta alasan memilih tidak menggunakannya. Kemudian ia menunjukkan menu pengaturan di berbagai platform – mulai dari pencarian Google hingga asisten suara – sambil mematikan fitur AI satu per satu.

“Sebagai pustakawan, saya melihat ini sebagai bagian dari literasi digital,” ujar Bailey. “Membantu orang mendapatkan kembali kendali apakah mereka ingin menggunakan AI atau tidak.”

Gagasan ini berasal dari Hannah Cyrus, pustakawan di Bangor Public Library, Maine. Ia menulis jurnal tentang workshop serupa dan langsung dihubungi puluhan pustakawan dari seluruh dunia. “Belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Cyrus. “Tidak ada yang pernah meminta slide ‘Pengenalan Komputer’ saya seperti ini.”

Di Bangor, Cyrus menggelar kelas reguler “Intro to Computers” yang biasanya hanya dihadiri belasan orang. Namun untuk workshop “Avoiding AI” pertamanya, pendaftaran harus ditutup di angka 30 orang, daftar tunggu dibuka, dan siaran Zoom ditambahkan. Total sekitar 70 orang hadir di setiap sesi.

Akar Masalah: Frustrasi terhadap Adopsi AI Paksa

“Semakin sering saya ditanya, ‘Bagaimana cara mematikan barang ini? Kenapa HP saya mencoba menulis email untuk saya? Kenapa meringkas pesan satu kalimat yang jelas-jelas bisa saya baca?’” cerita Cyrus. Akhirnya ia memutuskan mengajarkan dasar-dasar teknologi AI dan cara mematikannya bagi yang tidak mau.

Salah satu peserta, Johnny, mengeluhkan potensi pembangunan pusat data di dekat rumah. “Anda susah payah membeli rumah, dua tahun lagi mungkin ada data center di sebelah,” katanya. Peserta lain, Gabrielle, khawatir soal lingkungan. “AI terus dipaksakan di kantor, setiap melihatnya saya ingat dampak lingkungan,” ucapnya. Namun ia tidak menolak AI sepenuhnya – “Saya tidak anti AI untuk terobosan medis.”

Bailey mengaku lega melihat banyak orang skeptis terhadap AI. “Sebagai profesional informasi, rasanya menyenangkan melihat begitu banyak orang berbagi perasaan ini,” katanya. Posting Instagram perpustakaan tentang acara itu mendapat lebih dari 2.000 suka dan 220 bagikan – jauh di atas rata-rata puluhan suka biasa.

Relevansi bagi Pengguna di Indonesia

Fenomena ini relevan bagi pengguna gadget di Tanah Air. Fitur seperti Gemini di ponsel Android atau Apple Intelligence (meski belum resmi hadir di Indonesia) mulai bermunculan di perangkat. Banyak pengguna mungkin merasa terganggu dengan saran otomatis, ringkasan pesan, atau pencarian yang “dibantu” AI tanpa diminta.

Cyrus menekankan bahwa gerakan “anti-AI” bukan berarti menolak seluruh teknologi. Ia sendiri mengaku memanfaatkan optical character recognition untuk memindai dokumen tua di perpustakaan. “Ini lebih soal advokasi kendali, kebebasan memilih,” katanya. “Adopsi AI yang dipaksakan bisa jadi pemicu terakhir bagi banyak orang.”

Pembelajaran dari workshop para pustakawan ini sederhana: pengguna berhak menentukan sendiri apakah akan menggunakan fitur AI. Beberapa tips langsung dibagikan antar peserta, seperti menambahkan &udm=14 di akhir URL pencarian Google untuk menyembunyikan hasil AI – trik yang langsung ditulis Bailey di papan tulis.

Fenomena ini membuktikan bahwa literasi digital bukan hanya soal tahu cara pakai, tapi juga tahu cara mematikan.

Follow redaksiaceh.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: techcrunch.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks