JAKARTA — Kabar mengejutkan datang dari pucuk pimpinan Bank Indonesia. Perry Warjiyo, yang telah memimpin bank sentral selama dua periode, resmi menyatakan mundur dari jabatan Gubernur BI. Mensesneg Prasetyo Hadi mengonfirmasi langsung bahwa surat pengunduran diri Perry telah diterima oleh Presiden Prabowo Subianto pada Senin pagi.
“Secara resmi kami menerima surat pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia,” ujar Prasetyo Hadi di hadapan awak media di lingkungan kantor Bank Indonesia. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak istana maupun Bank Indonesia mengenai alasan di balik keputusan tersebut. Nama calon pengganti pun belum diumumkan.
Karier Panjang di Bank Sentral Sejak Era Deputi Gubernur
Perry Warjiyo bukanlah nama baru di dunia moneter Indonesia. Pria kelahiran Sukoharjo, 1959, ini telah mengabdi puluhan tahun di Bank Indonesia. Sebelum menjabat Gubernur, ia dipercaya sebagai Deputi Gubernur BI pada periode 2013 hingga 2018.
Kariernya semakin menanjak setelah sebelumnya menjabat Asisten Gubernur untuk kebijakan moneter, makroprudensial, dan urusan internasional. Ia juga pernah menjadi Direktur Eksekutif Departemen Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI pada rentang 2009–2013.
Dua Periode Kepemimpinan, Berakhir Lebih Cepat
Perry pertama kali dilantik sebagai Gubernur BI untuk masa bakti 2018–2023. Kepercayaan kembali diberikan untuk periode kedua tahun 2023–2028, yang seharusnya masih berlangsung dua tahun lagi. Pengunduran diri ini mengakhiri masa kepemimpinannya lebih awal dari jadwal.
Lembaga yang mengatur kebijakan moneter negara ini kini memasuki masa transisi. Belum ada langkah konkret dari pemerintah maupun Bank Indonesia terkait siapa yang akan mengisi kursi pimpinan tertinggi selanjutnya. Publik masih menunggu pengumuman resmi dari istana negara.