BANDA ACEH — KKP mengerahkan 8 unit ekskavator ke sejumlah kabupaten di Aceh untuk mempercepat perbaikan tambak yang rusak akibat banjir. Sebanyak 12 unit ekskavator dikirim ke tiga provinsi—Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat—untuk mendukung pemulihan kawasan terdampak bencana hidrologi. Selain alat berat, pemerintah juga menyiapkan bantuan benih dan pakan bagi petambak tanpa pungutan biaya.
Aceh Utara dan Bireuen Paling Parah
Selain Aceh Utara, kerusakan terbesar terjadi di Kabupaten Bireuen dengan sekitar 4.900 hektare tambak rusak, disusul Aceh Tamiang mencapai 3.400 hektare. Rehabilitasi dilakukan melalui pengalihan anggaran internal KKP sembari menunggu proses administrasi anggaran pemulihan. “Setelah rehabilitasi selesai, kami juga menyiapkan bantuan benih dan pakan sehingga petambak dapat langsung memulai budi daya,” kata Sekretaris Jenderal KKP Andy Artha saat meninjau tambak di Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya, dikutip Minggu (26/7/2026).
Target Produksi dan Omzet Per Hektare
KKP memperkirakan satu hektare tambak dengan pola budi daya tradisional plus dapat menghasilkan sekitar 600 kilogram udang dalam satu siklus. Dengan harga jual rata-rata Rp50.000 per kilogram, omzet setiap hektare diperkirakan mencapai Rp30 juta dalam tiga bulan. Tambak yang selesai diperbaiki akan digunakan untuk budi daya udang, bandeng, kakap, dan nila salin.
Bantuan untuk Nelayan di Bireuen dan Aceh Utara
Di luar sektor tambak, pemerintah menyalurkan bantuan mesin kapal dan 100 kotak pendingin berkapasitas 300 liter kepada nelayan di Kabupaten Bireuen dan Aceh Utara. Bantuan ini diharapkan mendukung pemulihan ekonomi masyarakat pesisir yang terdampak bencana. Hingga saat ini, progres pemulihan masih jauh dari target, namun pemerintah optimistis 5.200 hektare dapat direhabilitasi sebelum September 2026.