BANDA ACEH — Pemerintah Aceh menyebut sistem pelayanan di sejumlah SPBU menjadi biang keladi utama kemacetan yang merembet ke jalan umum. Juru Bicara Pemerintah Aceh, Nurlis Effendi, mengatakan persoalan ini harus segera dituntaskan sebelum memicu konflik di lapangan.
“Kalau tidak diperbaiki, berpotensi membuat kegaduhan,” kata Nurlis Effendi di Banda Aceh, Jumat (31/7/2026).
Empat Selang, Satu Petugas: Titik Macet Antrean BBM di Aceh
Tim evaluasi yang dikoordinatori Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Aceh, Teuku Robby Izra, menemukan ketimpangan antara jumlah petugas dan beban kerja di setiap dispenser. Satu dispenser dengan empat nozzle atau selang pompa hanya dilayani satu hingga dua orang.
Petugas tersebut harus mengerjakan beberapa tahap sekaligus: memeriksa QR Code Subsidi Tepat Guna, mencocokkan nomor polisi, mengisi BBM, hingga memproses pembayaran. Kondisi ini dinilai memperlambat putaran kendaraan di dalam area SPBU.
“Menurut temuan tim Pak Robby, di setiap dispenser ada empat nozzle atau selang pompa, namun hanya ada satu atau dua petugas yang melayani proses cek QR Barcode Subsidi Tepat Guna, nomor polisi, pengisian BBM sampai pembayaran. Inilah salah satu penyebab antrean,” kata Nurlis.
Pertamina Berjanji Perbaiki Layanan Sebelum Agustus 2026
Protes keras disampaikan langsung oleh Teuku Robby Izra kepada Sales Area Manager (SAM) Retail Pertamina dalam rapat di Kantor Gubernur Aceh pada 23 Juli 2026. Pertemuan itu turut dihadiri perwakilan Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Aceh.
Dalam forum tersebut, pihak Pertamina dan Hiswana Migas berkomitmen mengoptimalkan pelayanan di setiap SPBU. Pemprov Aceh meminta penambahan operator dispenser dan memastikan ada petugas khusus yang bertugas mengendalikan arus antrean kendaraan.
Tiga Pemicu Antrean: Pasokan, Permintaan, dan Kondisi SPBU
Selain faktor pelayanan, tim Pemprov Aceh memetakan tiga pemicu utama antrean BBM. Pertama, sisi suplai yang mencakup keterlambatan pasokan, keterbatasan armada pengangkut, dan gangguan cuaca.
Kedua, faktor permintaan yang melonjak akibat peningkatan mobilitas masyarakat, aksi panic buying, hingga banyaknya kendaraan dari luar daerah. Pemprov Aceh juga menyoroti praktik penyalahgunaan BBM bersubsidi.
Menurut catatan pemerintah, konsumen dari kelompok masyarakat mampu dan kendaraan industri kini banyak yang beralih ke Biosolar dan Pertalite. Perbedaan harga yang tinggi dengan Pertamax atau Dexlite menjadi pemicu peralihan ini.
Faktor ketiga berkaitan dengan kondisi internal SPBU, seperti jam operasional, keterbatasan jumlah dispenser, dan distribusi stok yang tidak merata. Meski begitu, PT Pertamina Patra Niaga Aceh memastikan stok BBM secara keseluruhan masih dalam batas aman.