Pencarian

SPS Revival Vol. 11 di Banda Aceh Satukan Santri, Musisi, dan Skater; Ruang Kolaborasi Kreatif Tanpa Tiket

Senin, 03 Agustus 2026 • 11:35:31 WIB
SPS Revival Vol. 11 di Banda Aceh Satukan Santri, Musisi, dan Skater; Ruang Kolaborasi Kreatif Tanpa Tiket
Santri membawakan monolog di Arena Skate Lamprit, Banda Aceh, pada SPS Revival Vol. 11, Sabtu (1/8/2026).

BANDA ACEH — Suasana Arena Skate Lamprit pada Sabtu malam (1/8/2026) berubah menjadi panggung kolaborasi yang cair. Seorang santri membawakan monolog, musisi mengisi ilustrasi spontan, suara saksofon menyusul, dan dentuman rapa'i memperkaya pertunjukan. Para skater yang biasanya mendominasi area tersebut justru bertahan hingga acara usai, sementara warga yang awalnya hanya melintas ikut berhenti menyaksikan.

"Ini sudah seperti Jogja, Pak. Terasa vibes kreativitasnya," ujar seorang peserta menjelang acara berakhir, membandingkan atmosfer kebebasan berekspresi yang jarang ditemui di ibu kota Provinsi Aceh tersebut.

Santri dan Panggung Publik Pertama Mereka

Di salah satu sudut arena, seorang santri yang akan membawakan monolog berjudul AENG/ALIMIN mengaku senang akhirnya mendapat ruang tampil di luar lingkungan pesantren. "Kami latihan terus selama ini di pesantren, Pak. Waktu Pak Guru Firman ngajak main di sini, wah, senang sekali. Ada panggung untuk kami," katanya kepada panitia.

Kesempatan itu tidak disia-siakan. Sebelum pentas, para santri menghampiri Bang Kobong untuk mempelajari sistem tata suara, bergantian memegang kamera dokumentasi, dan bertanya soal proses pengambilan gambar. Di sudut lain, guru pendamping merapikan rias wajah pemain dengan beberapa garis sederhana untuk mempertegas karakter tokoh.

Selama 20 menit, monolog tentang pergulatan seorang narapidana yang menunggu eksekusi mati berhasil menghidupkan dialog-dialog imajiner tentang keadilan dan moral. Penguasaan panggung yang mantap, dengan hanya bermodal bangku sederhana, ditutup tepuk tangan panjang dari penonton.

Rapa'i Bukan Sekadar Alat Musik, tapi Identitas yang Harus Dirawat

Pola belajar yang sama terlihat pada sesi diskusi bersama Azhari, putra muda pembuat rapa'i asal Aceh Utara. Kehadirannya di Banda Aceh untuk merawat sejumlah rapa'i dimanfaatkan panitia untuk menggelar perbincangan santai yang dipandu Taufik Maroe.

Diskusi mengalir dari teknik pembuatan rapa'i hingga persoalan regenerasi perajin. Azhari menekankan bahwa tradisi tidak hanya bertahan karena dimainkan, tetapi juga karena terus dibuat, dirawat, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Percakapan ini menjadi pengingat bahwa nilai sebuah instrumen tidak lepas dari tangan-tangan yang merawatnya.

Meutaloe: Menautkan Karya Tanpa Latihan Bersama

Menjelang penutupan, Galuh pada saksofon, Yanis pada cajón, Coach Sandi Islamanda pada vokal, dan pengisi acara pada gitar mengeksplorasi Bungong Jeumpa tanpa aransemen. Tidak ada satu pun yang berusaha menjadi pusat perhatian; masing-masing mendengar, merespons, lalu memberi ruang kepada yang lain.

Di situlah tema "Meutaloe—Menautkan Karya, Merawat Perjumpaan" bekerja. SPS Revival Vol. 11 membuktikan bahwa membangun ekosistem kreatif tidak harus dimulai dari proyek besar. Yang lebih mendasar adalah menghadirkan ruang yang memungkinkan pengetahuan berpindah dan generasi muda belajar langsung dari para pelaku.

Ruang-ruang seperti ini layak dipandang sebagai investasi sosial dan kebudayaan. Gagasan Dana Abadi Ekosistem Kreatif Aceh, misalnya, bukan sekadar soal membiayai kegiatan, melainkan memastikan proses belajar, regenerasi, dan dokumentasi terus berlangsung. Infrastruktur fisik memang bisa dibangun cepat, tetapi infrastruktur sosial membutuhkan ketekunan yang jauh lebih panjang.

Mungkin minggu depan belum ada spanduk. Panggungnya pun masih sederhana. Namun selama semakin banyak anak muda menemukan ruang untuk belajar, pengetahuan akan terus berpindah antargenerasi.

Follow redaksiaceh.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: sagoetv.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks