ACEH — Keputusan Infantino untuk hadir dalam U14 Boys Challenge yang digelar Uni Sepak Bola Karibia (CFU) memicu tanda tanya besar. Pasalnya, ajang tersebut bukanlah agenda resmi FIFA, dan sejumlah petinggi Concacaf—konfederasi yang membawahi Amerika Utara, Tengah, dan Karibia—dilaporkan sudah memintanya untuk tidak datang.
Kehadirannya di Republik Dominika akan mempertemukannya langsung dengan Victor Montagliani, Presiden Concacaf yang dianggap sebagai penantang paling kredibel. Montagliani bersama UEFA dan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) tengah mendorong mosi tidak percaya terhadap Infantino.
Manuver Politik di Balik Turnamen Usia Muda
Infantino disebut menilai pertemuan CFU sebagai peluang emas untuk melobi suara negara-negara kecil di kawasan Karibia menjelang pemilihan presiden FIFA Maret mendatang. Dua puluh satu asosiasi anggota CFU tercatat memiliki hak suara dalam kongres FIFA.
Langkah ini diambil setelah sebelumnya ia lebih banyak menghabiskan waktu di Maroko dan Qatar, basis pendukung setianya. Republik Dominika sendiri sejatinya telah mengundang Infantino sebelum rencana kontroversial penjualan hak siar Piala Dunia kepada investor swasta terungkap ke publik bulan lalu.
Menariknya, negara tersebut kini justru ikut menandatangani pernyataan bersama UEFA, Concacaf, dan AFC yang meminta FIFA menggelar tinjauan independen atas proposal yang disebut FIFA Forward Enterprise itu. Meksiko, negara paling sukses di Concacaf, justru berseberangan dengan konfederasinya sendiri dengan tetap mendukung Infantino. Dukungan juga datang dari dua anggota CFU, yakni Grenada serta St Kitts and Nevis.
Tekanan Global untuk Mundur Kian Menguat
Di luar manuver politik tersebut, tekanan terhadap Infantino terus berdatangan. Kamis lalu, kelompok suporter dari seluruh dunia meluncurkan petisi daring yang menuntut pengunduran dirinya. Petisi itu telah didukung oleh keenam konfederasi FIFA, baik dari tingkat kontinental maupun nasional.
"Upaya memalukan dari satu individu—presiden FIFA sendiri—untuk menjual Piala Dunia kepada investor swasta adalah pengkhianatan yang tidak akan dilupakan sepak bola," demikian pernyataan organisasi suporter. Mereka menuding rencana tersebut dijahit secara rahasia, dinegosiasikan di balik pintu tertutup, dan disembunyikan dari anggota FIFA serta jutaan penggemar.
"Seorang presiden yang berulang kali mengkhianati sepak bola dan mempermainkan olahraga kita telah kehilangan hak untuk memimpinnya. Demi kredibilitas FIFA dan masa depan permainan ini, dia harus mundur," lanjut pernyataan tersebut.
Ambang Mosi Tidak Percaya dan Aturan FIFA
Upaya UEFA, Concacaf, dan AFC untuk memanggil mosi tidak percaya masih terus dijajaki. Berdasarkan statuta FIFA, dewan dapat menggelar kongres luar biasa kapan saja jika 43 dari 211 asosiasi anggota mengajukan permintaan tertulis. Kongres tersebut wajib digelar dalam waktu tiga bulan, meski statuta tidak mengatur secara spesifik mengenai mekanisme mosi tidak percaya terhadap presiden.
FIFA enggan berkomentar saat ditanya mengenai rencana perjalanan presidennya. Sementara itu, langkah Infantino menghadiri turnamen junior yang bukan agenda resmi FIFA di tengah krisis politik ini dinilai sejumlah pengamat sebagai bentuk lain dari upaya mempertahankan kekuasaan dengan cara yang tidak lazim.