Pencarian

21 Tahun Perdamaian Aceh Diuji, Yusri Kasim Luncurkan Buku Ketahanan Sosial dari Aceh Utara

Selasa, 25 Agustus 2026 • 14:42:01 WIB
21 Tahun Perdamaian Aceh Diuji, Yusri Kasim Luncurkan Buku Ketahanan Sosial dari Aceh Utara
Warga membaca buku karya Dr. Yusri Kasim dalam acara peluncuran di Banda Aceh, Selasa (25/8/2026).

BANDA ACEH — Perjalanan panjang masyarakat Aceh mempertahankan perdamaian selama 21 tahun pasca konflik bersenjata kini dibedah dalam sebuah buku akademik-populer. Penulisnya, Dr. Yusri Kasim, SE, M.Si, memilih Aceh Utara sebagai wilayah kajian utama karena daerah itu pernah menjadi episentrum konflik dengan dampak sosial yang berat.

Buku setebal lebih dari 200 halaman ini bukan sekadar catatan sejarah. Yusri menegaskan bahwa karyanya mencoba menjawab satu pertanyaan mendasar: bagaimana masyarakat yang pernah terbelah oleh kekerasan mampu membangun kembali ikatan sosialnya.

"Bagaimana sebenarnya masyarakat Aceh sampai dengan 21 tahun ini mampu merawat perdamaian," kata Yusri kepada Nukilan usai acara peluncuran di Banda Aceh, Selasa (25/8/2026).

Dampak Konflik yang Tak Pernah Selesai

Menurut Yusri, konflik bersenjata di Aceh tidak hanya meninggalkan trauma keamanan, tetapi juga merusak sendi-sendi kehidupan lain. Ia menyebut dampaknya meluas ke sektor ekonomi, praktik adat, budaya, agama, hingga hubungan antarmasyarakat yang sempat retak.

Buku ini menggambarkan secara detail bagaimana konflik memporak-porandakan tatanan sosial di Aceh Utara. Namun, fokus utamanya justru pada proses pemulihan yang dilakukan warga dari bawah, bukan semata kebijakan dari atas.

Dari Disertasi Akademik Menjadi Buku Publik

Yusri menjelaskan bahwa materi buku ini berakar dari riset doktoralnya yang mengkaji peraturan bupati tentang pengentasan kemiskinan di Aceh Utara. Saat meneliti, ia menemukan keterkaitan erat antara pemulihan ekonomi dan aspek sosial, pendidikan, kesehatan, hingga adat istiadat.

Hasil penelitian yang telah diuji para guru besar di Malang itu kemudian disusun ulang menjadi buku. Proses penulisannya hanya memakan waktu sekitar tiga bulan karena sebagian besar data telah tersedia dalam disertasi.

"Disertasi kita rubah menjadi sebuah buku dari hasil kajian yang sudah diuji secara akademik oleh para guru besar di Malang," ujarnya.

Lebih dari Sekadar Peringatan 15 Agustus

Yusri mengingatkan agar perjalanan damai Aceh tidak hanya dirayakan setiap momentum Hari Damai Aceh pada 15 Agustus. Menurutnya, pencapaian yang lebih penting adalah bagaimana perdamaian itu dirawat dalam keseharian selama lebih dari dua dekade.

"Jadi kita jangan hanya lihat yang pada 15 Agustus yang lalu saja. Dua puluh tahun yang lalu kan itu berhasil merawat. Jadi kita jangan fokus hanya pada satu tahun itu saja," katanya.

Buku yang diterbitkan Lembaga Riset Siber Indonesia (CISSReC) ini telah memiliki ISBN dan ESBN. Selain versi cetak, buku juga tersedia dalam format elektronik atau e-book.

Yusri berharap pengalaman Aceh dapat menjadi pembelajaran bagi daerah lain yang pernah dilanda konflik, bahkan bagi komunitas internasional. "Bagi saya, Aceh ini adalah lab-nya dunia untuk mempelajari bagaimana merawat damai," pungkasnya.

Follow redaksiaceh.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: nukilan.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks