ACEH — Mengutip laporan Bloomberg Technoz, ekspektasi perlambatan pasar tenaga kerja AS menjadi katalis utama yang dapat mendorong penguatan mata uang Asia, termasuk rupiah. Data non-farm payroll yang diperkirakan lemah berpotensi menekan dolar AS dan memberi napas bagi mata uang emerging market. Pemicu Eksternal di Balik Proyeksi Penguatan
Sentimen eksternal memang sedang bercampur. Di satu sisi, pelaku pasar menanti rilis data ketenagakerjaan AS yang menjadi acuan arah kebijakan suku bunga The Fed. Jika data tersebut benar-benar lesu, ekspektasi pemangkasan suku bunga akan menguat dan dolar AS berpotensi terdepresiasi.
Kondisi itu secara teoretis menguntungkan rupiah dan mata uang kawasan. Namun, proyeksi tersebut masih dibayangi risiko dari sisi komoditas energi yang belum mereda. Kenaikan Harga Minyak Menjadi Pengganjal
Faktor penghambat datang dari harga minyak mentah yang masih bertengger tinggi di posisi US$95,78/barel. Harga komoditas energi ini mencatatkan kenaikan mingguan terbesar sejak Juli, dipicu meningkatnya kekhawatiran akan gangguan berkepanjangan terhadap aliran energi melalui Selat Hormuz.
Kekhawatiran pasokan itu sempat memangkas sebagian penguatan mata uang Asia di awal perdagangan. Bagi Indonesia yang masih menjadi net importir minyak, harga minyak yang tinggi juga berpotensi memperlebar defisit neraca dagang dan menekan nilai tukar. Peta Pergerakan Mata Uang Asia
Respons pasar kawasan terhadap sentimen yang bercampur itu terlihat beragam sejak perdagangan dibuka pukul 07.20 WIB. Berikut pergerakan beberapa mata uang Asia:
- Ringgit Malaysia memimpin penguatan sebesar 0,16% - Dolar Singapura menguat terbatas 0,04% - Yuan offshore dan yuan China kompak melemah 0,01% - Yen Jepang berbalik arah dan menyusut 0,06%
Pola pergerakan yang bervariasi itu menunjukkan pelaku pasar masih berhati-hati dalam mengambil posisi. Keputusan akhir akan sangat bergantung pada realisasi data tenaga kerja AS yang akan dirilis malam ini waktu Indonesia.
Apabila data tersebut lebih buruk dari estimasi, ruang penguatan rupiah dan mata uang kawasan berpeluang terbuka lebih lebar. Sebaliknya, jika data sesuai atau lebih baik dari perkiraan, dolar AS berpotensi kembali perkasa dan menahan laju penguatan rupiah.
Investasi mengandung risiko.