Pencarian

EUDR Paksa Eksportir Kopi-Kakao RI Benahi Data Lahan, Surveyor Indonesia Siapkan Sistem Verifikasi

Sabtu, 05 September 2026 • 12:21:31 WIB
EUDR Paksa Eksportir Kopi-Kakao RI Benahi Data Lahan, Surveyor Indonesia Siapkan Sistem Verifikasi
Direktur Niaga dan Operasi Surveyor Indonesia, Euis Emalia Noor, menyampaikan pernyataan terkait kesiapan sistem verifikasi data lahan untuk ekspor kopi dan kakao ke Uni Eropa di ajang Karya Kreatif Indonesia, Jakarta, 20–23 Agustus 2026.

ACEH — Pasar Uni Eropa kini menuntut lebih dari sekadar dokumen perdagangan lengkap. Regulasi European Union Deforestation Regulation (EUDR) mewajibkan eksportir membuktikan bahwa komoditas yang dijual tidak berasal dari lahan deforestasi, dengan data yang terverifikasi hingga titik koordinat lahan.

Direktur Niaga dan Operasi Surveyor Indonesia, Euis Emalia Noor, menegaskan ketertelusuran harus dimulai dari sumbernya. "Dengan data yang lebih tertata dan terverifikasi sejak tingkat lahan, pelaku usaha Indonesia akan memiliki dasar yang lebih kuat untuk menghadapi tuntutan pasar global," ujarnya, Sabtu (5/9/2026).

Tekanan dari Pembeli Eropa Sudah Mulai Terasa

Gelombang permintaan data ini tidak lagi hanya menyasar korporasi besar. Eksportir skala kecil dan menengah, khususnya di sektor kopi dan kakao, mulai menerima pertanyaan detail dari pembeli Eropa mengenai kesiapan memenuhi persyaratan EUDR.

Hal ini mengemuka dalam ajang Karya Kreatif Indonesia (KKI) di Jakarta pada 20–23 Agustus 2026. Berbeda dengan tantangan dagang sebelumnya yang berfokus pada tarif atau kuota, EUDR menyentuh aspek teknis produksi di hulu.

Regulasi ini menempatkan uji tuntas (due diligence) sebagai inti kepatuhan. Konsekuensinya, data lokasi dan batas lahan, asal bahan baku, serta dokumen kepatuhan di tingkat produksi harus tersedia konsisten. Tanpa itu, proses penelusuran dan verifikasi oleh otoritas Eropa bakal terhambat.

Fragmentasi Data Jadi Masalah Struktural Indonesia

Tantangan bagi Indonesia lebih kompleks ketimbang negara pesaing. Rantai pasok komoditas ekspor nasional melibatkan banyak pelaku dengan sumber bahan baku tersebar, dari petani kecil hingga pedagang perantara.

Kondisi ini membuat fragmentasi informasi mengenai lahan, pemasok, dan dokumen kepatuhan menjadi masalah struktural. Data yang tersebar dan tidak terstandarisasi menyulitkan proses verifikasi ketika produk hendak diekspor ke Eropa.

Untuk menjawab persoalan itu, PTSI mengembangkan sistem bernama ID-CONNECT. Platform ini dirancang untuk mengelola data ketertelusuran, memetakan poligon geolokasi lahan, dan mendokumentasikan kepatuhan dari tingkat sumber.

Sistem tersebut memungkinkan proses verifikasi independen terhadap data yang diajukan eksportir. Dengan integrasi data rantai pasok dan bukti kepatuhan dalam satu ekosistem, risiko penolakan produk di pelabuhan Eropa dapat ditekan sejak awal.

Kesiapan Data Menentukan Daya Saing ke Eropa

Bagi eksportir, perubahan ini berarti investasi baru pada tata kelola data. Mereka tidak bisa lagi mengandalkan dokumen historis yang bersifat umum; setiap kiriman perlu didukung bukti spesifik lokasi lahan produksi.

Langkah PTSI menyediakan infrastruktur verifikasi menjadi sinyal bahwa kepatuhan EUDR bukan sekadar beban administratif. Justru, pelaku usaha yang mampu membangun sistem data kuat sejak kini akan memiliki posisi tawar lebih baik di pasar Eropa yang ketat aturan.

Seiring tenggat implementasi yang terus berjalan, kecepatan adaptasi eksportir Indonesia menentukan apakah komoditas seperti kopi dan kakao tetap kompetitif di salah satu pasar tujuan utama.

Follow redaksiaceh.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: ekbis.sindonews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks