ACEH — Erupsi Gunung Anak Krakatau sejak Jumat (4/9/26) memicu lonjakan kebutuhan masker di sejumlah daerah terdampak abu vulkanik. Namun di tengah situasi sulit ini, beredar laporan oknum penjual yang menaikkan harga masker secara tidak wajar, dari yang semula Rp12 ribu menjadi Rp180 ribu per biji.
Curhatan Nana Mirdad soal Harga Masker Melonjak
Melalui unggahan di akun Threads @nanamirdad_, ibu dua anak ini mengaku miris dengan keputusan penjual masker yang dinilai tidak masuk akal. Ia bahkan menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk kecurangan yang tidak berperikemanusiaan.
"Agak gila juga di saat rakyat banyak yang kesusahan liat brand penjual masker proper malah naikin harga jadi 180rb-an per biji. Sementara paginya masih dijual di harga 12rb aja," tulisnya.
Nana mengaku tahu persis harga distributor masker karena suaminya, Andrew White, juga memiliki produk masker N95 di perusahaannya. "Memang, jualan goalnya profit. Tapi nggak usah securang ini pada saat bencana kali ya," sambungnya.
Respons Netizen dan Imbauan Pemerintah
Unggahan Nana menuai beragam respons netizen. Banyak yang mengaku mengalami kejadian serupa, seperti pesanan dibatalkan sepihak lalu dijual dengan harga lebih mahal. Seorang netizen dengan akun @ju*** menulis, "Pesanan saya dibatalin berkali2 oleh beberapa seller di toko orens. Alasan kosong, tapi pas dicek balik ke tokonya, harganya naik."
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Yahya Zaini, juga angkat bicara. Ia meminta apotek dan toko penjual masker tidak memanfaatkan situasi dengan menaikkan harga berlipat-lipat. "Harus ada rasa empati terhadap masyarakat yang hidupnya masih mengalami kesulitan," ungkapnya kepada media, dilansir detikcom.
Kenapa Masker Wajib Dipakai saat Abu Vulkanik?
Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, mengimbau masyarakat membatasi aktivitas di luar rumah selama paparan abu vulkanik masih tinggi. Jika terpaksa keluar, penggunaan masker dan kacamata menjadi langkah perlindungan yang dianjurkan.
Debu vulkanik adalah partikel halus dari batuan, mineral, dan kaca vulkanik yang terlontar saat erupsi. Ukurannya sangat kecil, yakni PM10 dan PM2.5, sehingga mudah terhirup dan masuk ke saluran napas dalam.
Bahaya Debu Vulkanik untuk Kesehatan Keluarga
Dokter Spesialis Paru, dr. Ibrahim Dharmawan, SpP, menjelaskan paparan debu vulkanik bisa menyebabkan tenggorokan tidak nyaman, batuk, sesak napas, serta iritasi mata dan hidung. Kelompok berisiko tinggi seperti anak-anak, lansia, penderita asma, dan PPOK perlu waspada ekstra.
Partikel debu yang sangat kecil bisa lolos dari saringan alami saluran napas atas dan mencapai bagian terdalam paru. Jika paparan tinggi atau berulang, partikel mineral yang tidak mudah larut dapat bertahan lebih lama dan memicu respons peradangan.
Untuk anak-anak, pastikan masker yang digunakan sesuai ukuran wajahnya agar tidak ada celah. Jika si kecil kesulitan memakai masker, batasi aktivitas di luar rumah dan tutup ventilasi rumah saat abu vulkanik beterbangan.
Kapan Harus ke Dokter?
Segera bawa anggota keluarga ke fasilitas kesehatan terdekat jika muncul gejala seperti batuk berkepanjangan, sesak napas berat, nyeri dada, atau bibir membiru. Penanganan dini penting dilakukan, terutama pada balita dan lansia yang saluran pernapasannya lebih sensitif.