BANDA ACEH — Taufik hadir mewakili pimpinan Pemerintah Aceh dalam kegiatan yang digelar di Balai Meuseuraya Aceh. Festival tahun ini menyatukan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), perajin, serta komunitas kreatif dalam satu arena pameran dan pertunjukan.
Pemerintah Aceh menempatkan festival sebagai instrumen untuk membuka peluang usaha baru, memperluas pemasaran produk lokal, dan mendorong kreativitas pelaku UMKM agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Apresiasi untuk Bank Indonesia Aceh dan Para Kolaborator
Dalam sambutan Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah yang disampaikan pada acara tersebut, Pemerintah Aceh menyampaikan apresiasi kepada Bank Indonesia Provinsi Aceh dan seluruh pihak yang telah berkolaborasi menyelenggarakan festival.
Kolaborasi lintas lembaga itu dipandang penting untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif di provinsi ujung barat Sumatra tersebut.
"Kami memandang festival ini sebagai wadah yang sangat baik untuk memperkuat ekonomi masyarakat, mengembangkan kreativitas, dan melestarikan budaya Aceh," ujar Taufik.
Tema Wastra Indatu dan Upaya Menjaga Warisan Budaya
Festival tahun ini mengusung tema "Meukarya Wastra Indatu: Berkarya dan Melestarikan Warisan Budaya Aceh". Tema tersebut menekankan pentingnya menjaga warisan budaya agar tetap berkembang tanpa kehilangan nilai dan identitasnya.
Wastra atau kain tradisional menjadi salah satu titik berat pameran, berdampingan dengan produk kerajinan dan kreasi komunitas kreatif lokal.
Sinergi Pemerintah, Perbankan, dan Pelaku Usaha
Melalui kegiatan ini, Pemerintah Aceh berharap sinergi antara pemerintah, perbankan, pelaku usaha, dan komunitas kreatif terus diperkuat. Sinergi itu dinilai menjadi kunci untuk mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Meuseuraya Festival 2026 menjadi salah satu wadah untuk mendorong pengembangan UMKM, memperkuat ekonomi masyarakat, sekaligus melestarikan budaya Aceh.